Gema Lonceng Vatikan: Ditubir Perang Dunia

photo author
Mushab Muuqoddas, Senayan Post
- Jumat, 24 April 2026 | 17:19 WIB

Masalahnya, dalam praktik politik global, standar ini sering diterapkan secara selektif. Amerika Serikat kerap berbicara tentang demokrasi dan hak asasi manusia, tetapi dalam waktu yang sama mendukung eskalasi konflik yang berdampak besar pada warga sipil. Inilah yang disebut sebagai standar ganda. Dan inilah yang secara implisit dikritik oleh suara moral dari Vatikan.

Dengan demikian, kritik terhadap kebijakan Amerika bukan sekadar kritik geopolitik, tetapi kritik terhadap cara dunia memperlakukan keadilan secara tidak konsisten. Warga sipil sering menjadi korban dari permainan kekuasaan yang dibungkus dengan retorika keamanan.

Harmonisasi: Titik Temu Lintas Iman

Harmonisasi dunia tidak akan lahir dari dominasi satu negara adidaya, melainkan dari keberanian moral lintas iman untuk bertemu dalam satu prinsip kemanusiaan. Dalam tradisi Islam Indonesia, Nurcholish Madjid (Cak Nur) melalui karyanya yang berjudul Islam, Doktrin, dan Peradaban (1992) memperkenalkan konsep kalimatus sawa atau nama lain dari titik temu antar agama yang berbasis nilai universal.

Bagi Cak Nur, perbedaan teologis tidak menghalangi kerja sama dalam memperjuangkan keadilan dan kemanusiaan. Oleh sebab itu, kritik Paus terhadap kebijakan perang dapat dibaca sebagai momen kalimatun sawa itu. Ia menunjukkan bahwa nilai keadilan tidak dimonopoli oleh satu agama, tetapi menjadi ruang bersama bagi seluruh umat manusia. Dalam hal ini, yang dipertaruhkan bukan hanya kepentingan negara, tetapi kehidupan manusia. Terutama mereka yang tidak memiliki kuasa.

Dalam kerangka ini, Islam tidak perlu melihat Paus sebagai “yang lain”. Ia bisa dilihat sebagai sekutu moral dalam memperjuangkan nilai yang sama. Kritik terhadap kebijakan Donald Trump bukan sekadar kritik politik, tetapi pembelaan terhadap kemanusiaan yang terancam oleh logika kekuasaan.

Harmonisasi lintas iman seperti inilah yang menjadi penting di tengah dunia yang semakin terpolarisasi. Ketika agama-agama berani berdiri bersama dalam membela keadilan, maka ruang bagi perdamaian menjadi lebih terbuka.

 

 

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Mushab Muuqoddas

Tags

Rekomendasi

Terkini

Gara-Gara Huruf "P"

Jumat, 12 Juni 2026 | 08:15 WIB

Brutu

Senin, 8 Juni 2026 | 13:21 WIB

FA AINA TADZHABUN?

Rabu, 3 Juni 2026 | 07:58 WIB

Niat Puasa Arafah, Latin dan Artinya

Senin, 25 Mei 2026 | 21:10 WIB

Gema Lonceng Vatikan: Ditubir Perang Dunia

Jumat, 24 April 2026 | 17:19 WIB

Krapyak

Selasa, 21 April 2026 | 22:32 WIB
X