Mush'ab Muqoddas, Lc
Pimred Senayan Post
Beberapa waktu lalu penulis diajak oleh Ketua Yayasan Persahabatan dan Studi Peradaban Dr Ahed Abu Atta untuk itikaf bersama Diaspora Palestina di Masjid Ash Shiddiq Cikeas Udik Kabupaten Bogor.
Seperti biasa, kegiatan itikaf yang penulis lakukan adalah shalat tajahud berjamaah, shalat tahajud sendiri, tilawah Al Qur'an dan shalat witir berjamaah. Antara tahajud berjamaah dan shalat witir ada jeda, ngopi dan makan jajanan khas Palestina, helbah. Kopinya sangat kencang karena dicampur kapulaga. Rasa mengantuk hilang beberapa saat.
Selepas shalat witir berjamaah, kami bersantap sahur. Panitia Itikaf Masjid Ash Shiddiq membagikan makanan khas Indonesia kepada peserta Itikaf.
Sedangkan Diaspora Palestina memakan makanan khas Palestina dan Bangsa Arab pada umumnya. Sangat sederhana, ada roti isy syami, telur rebus, yogurt, keju dan halawiyah. Besok lusanya, Diaspora Palestina santap sahur hanya dengan roti isi dan susu yang terfragmentasi sebelum menjadi sekental yogurt. Bangsa Arab menyebutnya rayeb dan Bangsa Turki menyebutnya airan.
Di antara ngopi dan di sela-sela shalat tajahud berjamaah sebelum witir, beberapa diaspora Palestina melantunkan syair-syair perjuangan dan shalawat untuk Nabi Muhammad SAW.
Bayangan penulis teringat saat sarapan di Jalur Gaza Palestina di akhir 2012 lalu. Penulis ke Jalur Gaza Palestina sebagai penerjemah dari KBRI Cairo mendampingi delegasi Komisi I DPR RI.
Saat itu serangan Israel mulai mengendor. Tapi drone Israel masih mengintai. Malam hari, dari jendela yang menatap Laut Mediterania, penulis menyaksikan kapal perang Israel menembakkan roket ke atas ke kawasan Jalur Gaza Palestina. Infonya serangan tersebut menargetkan kawasan Bait Lahiya, bagian utara Jalur Gaza Palestina, saat itu adalah basis Jihad Islamiy.
Setelah serangan itu penulis tidak bisa tidur, sehingga ngobrol panjang lebar kali tinggi dengan pengawal delegasi Khalid Kiddih, di lobby hotel.
Paginya sebelum bergerak ke Rumah Sakit Indonesia di Bait Lahiya, kami sarapan cukup sederhana. Roti dengan beberapa aneka keju, selai, madu, susu, telur dan sosis.
Biskuit kurma yang penulis bawa dari Cairo Mesir, habis sebelum sarapan, karena kami harus menunggu pegawai hotel menyiapkan sarapan. Penulis sengaja membawa banyak sekitar 4 KG karena cukup untuk menahan lapar jika tidak ada makanan.
Dari Rumah Sakit Indonesia kami langsung ke Border Rafah untuk kembali ke Mesir. AlhamduliLlah atas perhatian yang peka dan kemuliaan Dubes RI Bapak Nurfaizi Suwandi rombongan yang 'masih lapar' kembali makan di hotel Swiss Inn kota Arish, ibukota provinsi Sinai Utara. Perjalanan ke Cairo kami lalui dengan perut kenyang.