Oleh karena itu, menurut dia, negosiasi harus dilakukan dari posisi yang memiliki kekuatan, bukan dengan mengandalkan pihak lawan untuk menyelesaikan persoalan Iran.
Ia mengaku sejak awal Revolusi Islam berkomitmen mengikuti garis pendiri Republik Islam Iran serta menolak Westernisasi, provokasi dan penyimpangan dari prinsip-prinsip revolusi.
Ghalibaf juga mengkritik pihak-pihak yang dinilainya lebih mengandalkan musuh dibandingkan kekuatan rakyat sendiri dalam mencari solusi atas persoalan nasional.
Menurut dia, musuh akan selalu berupaya menciptakan kesalahpahaman dan perpecahan di dalam negeri.
Baca Juga: Amerika Serikat Siapkan 'Sanksi Terberat dalam Sejarah' terhadap Iran, Begini Tanggapan Tiongkok
Oleh karena itu, perbedaan pandangan seharusnya dihadapi melalui kritik yang konstruktif dan kewaspadaan, bukan dengan penafsiran yang tergesa-gesa.
Ia memperingatkan agar persaingan politik tidak berkembang menjadi situasi yang melemahkan negara, merusak persatuan nasional, maupun mengikis kepercayaan terhadap kepemimpinan Iran.
"Kita harus bertanggung jawab menjaga dan melindungi instrumen kekuasaan agar pencapaian perang dapat dikonsolidasikan dan negara dapat melewati bencana serius yang telah direncanakan musuh dengan aman," ujarnya.
Ghalibaf menilai penolakan terhadap tanggung jawab untuk bernegosiasi dengan musuh, serta menganggap setiap pencapaian tim perunding sebagai bentuk pengkhianatan, merupakan sikap yang keliru.
Baca Juga: Menlu Iran Kecam Ancaman Ekonomi AS: Kebijakan Gagal Hanya Picu Kekalahan
Di tengah berbagai tantangan yang dihadapi Iran, ia menyerukan upaya bersama untuk menyelesaikan persoalan rakyat, memperkuat posisi Iran, mempertahankan hasil perjuangan dan menghadapi tekanan musuh.
Ia menegaskan pedoman Pemimpin Revolusi Islam juga mengarah pada penguatan perlawanan, menjaga persatuan nasional, memperkuat kemampuan dalam negeri, serta menghindari polarisasi yang dapat merugikan negara.
Dengan demikian, bagi Ghalibaf, persoalannya bukan apakah Iran harus bernegosiasi atau tidak, melainkan dari posisi apa negosiasi itu dilakukan dan untuk kepentingan siapa hasilnya.***