internasional

Pasokan Minyak Terhenti Pasca Penangkapan Maduro, Kuba Alami Pemadaman Listrik Total

Selasa, 17 Maret 2026 | 16:23 WIB
Masyarakat mengobrol di luar rumah selama pemadaman listrik, Havana, Kuba, 10 November 2024. (Getty Images/Yander Zamora/Anadolu)

SENAYANPOST – Jutaan warga Kuba terpaksa hidup dalam kegelapan setelah jaringan listrik nasional negara tersebut dilaporkan runtuh total pada Senin, (16/3/26). Pemerintah Kuba menuding kebijakan sanksi ekonomi atau blokade minyak yang dilakukan Amerika Serikat sebagai penyebab utama lumpuhnya sistem energi mereka.

Berdasarkan laporan Russian Today yang diterbitkan pada Senin malam, kementerian energi setempat menyatakan bahwa pemadaman ini berdampak pada hampir 11 juta penduduk. Krisis ini terjadi akibat kondisi pembangkit listrik yang sudah tua dan kekurangan bahan bakar minyak secara akut untuk mengoperasikannya.

Apa Itu Blokade Minyak dan Dampaknya bagi Kuba?

Bagi pembaca awam, "blokade" atau embargo adalah kebijakan di mana Amerika Serikat melarang atau membatasi perdagangan dengan Kuba. Dalam konteks ini, Washington mengancam akan memberikan sanksi bagi negara-negara mana pun yang mengirimkan minyak ke pulau tersebut. Kebijakan ini merupakan upaya Amerika Serikat untuk menekan pemerintah Kuba karena kedekatan mereka dengan Rusia, Tiongkok, dan Iran.

Presiden Kuba, Miguel Diaz-Canel, menyatakan bahwa negaranya sudah tidak menerima kiriman minyak selama tiga bulan terakhir. Hal ini terjadi setelah Venezuela, yang merupakan pemasok utama minyak bagi Kuba, mengalami guncangan politik akibat intervensi pasukan komando Amerika Serikat yang menangkap Presiden Nicolas Maduro pada awal Januari lalu.

Baca Juga: Langkah Krusial, Hamas Gelar Pertemuan Rahasia dengan Dewan Perdamaian Trump Bahas Masa Depan Gaza

Dalam pernyataannya yang dikutip oleh Russian Today, Presiden Miguel Diaz-Canel menggambarkan situasi ini sebagai tindakan yang sangat kejam. Ia menegaskan bahwa blokade tersebut tidak hanya melumpuhkan ekonomi, tetapi juga membahayakan nyawa manusia.

"Kuba tidak menerima kiriman minyak selama tiga bulan terakhir akibat blokade yang jahat ini," ujar Diaz-Canel pada Jumat lalu. Ia menambahkan bahwa dampak ini sangat dirasakan oleh masyarakat, termasuk "anak-anak yang membutuhkan bantuan medis" di fasilitas kesehatan yang kini kesulitan mendapatkan pasokan listrik stabil.

Meskipun demikian, Diaz-Canel menyatakan bahwa Kuba tetap terbuka untuk berdialog dengan Washington. Namun, ia menekankan bahwa dialog tersebut harus dilakukan "tanpa melepaskan prinsip atau kedaulatan kami."

Reaksi Internasional dan Kondisi Terkini

Krisis ini memicu keprihatinan internasional. Negara-negara seperti Rusia, Tiongkok, hingga Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mengecam blokade Amerika Serikat tersebut dan menyebutnya sebagai tindakan yang "tidak manusiawi."

Baca Juga: Hegemoni Baru Washington: Rusia Waspadai Strategi Ketidakstabilan Global di Bawah Donald Trump

Mereka memperingatkan bahwa pemadaman listrik yang berkepanjangan akan memberikan dampak buruk yang tidak proporsional bagi warga sipil. Saat ini, kementerian energi Kuba sedang berupaya memulihkan jaringan listrik secara bertahap.

Beberapa fasilitas penting seperti Rumah Sakit Faustino Perez di wilayah Matanzas dilaporkan sudah mulai mendapatkan kembali pasokan listrik melalui protokol darurat. Namun, penyelidikan mengenai penyebab pasti keruntuhan jaringan listrik nasional ini masih terus dilakukan di tengah ketidakpastian pasokan bahan bakar di masa depan. *

Tags

Terkini