SENAYANPOST - Danny Citrinowicz, seorang pengamat keamanan Timur Tengah, percaya para pemimpin Iran sebenarnya paham betul tekanan strategis yang mereka hadapi sekarang.
Mereka tahu posisinya sulit. Tapi, menurut Citrinowicz, Teheran merasa tak punya pilihan realistis selain tetap bertahan dengan kebijakan yang sudah ada.
"Banyak orang bilang pemimpin Iran tidak sadar betapa serius situasi mereka. Saya justru melihat sebaliknya: mereka paham, tapi merasa tidak ada jalan keluar lain yang masuk akal," tulis Citrinowicz pada 19 Februari 2026, dikutip SenayanPost.com dari akun X pribadinya.
Iran, menurutnya, tidak mencari perang besar. Mereka lebih suka kesepakatan terbatas, yang fokusnya sempit, hanya soal program nuklir.
Dalam konteks itu, Iran mungkin siap memberi konsesi terbatas soal level pengayaan uranium atau pengawasan internasional.
Tujuannya agar mereka bisa menunjukkan ke dunia kalau mereka tidak aktif mengejar senjata nuklir.
Tapi jika tidak ada kesepakatan, Iran tampaknya akan pilih berlama-lama di meja negosiasi.
Kemungkinan mereka ingin mengulur waktu, menunda, atau bahkan mencegah aksi militer.
Sayangnya, ruang kompromi Iran juga cukup terbatas, terbentur faktor ideologi dan politik dalam negeri.
Baca Juga: Di Pertemuan DK PBB, Menlu Sugiono Kecam Pendudukan Israel di Tepi Barat Palestina
"Pembongkaran program nuklir secara menyeluruh dan permanen—yang di mata publik domestik adalah simbol kedaulatan dan kebanggaan teknologi—itu secara politik dan ideologis tidak mungkin diterima," kata Citrinowicz.
Begitu juga dengan program rudal. Bagi Teheran, rudal itu penting buat menyeimbangkan kekuatan Amerika Serikat (AS) dan Israel.
Jadi, pembatasan besar-besaran terhadap arsenal rudal mereka jelas lebih tidak bisa diterima lagi. Dari sudut pandang rezim, jika rudal dibatasi, Iran akan lebih rentan ditekan atau diserang di masa depan.