Namazi menekankan bahwa Republik Islam bukanlah struktur monolitik, melainkan sistem patronase tempat faksi bersaing untuk sumber daya dan kelangsungan hidup.
Namun, sejarah menunjukkan bahwa saat menghadapi ancaman eksistensial, faksi-faksi tersebut cenderung menutup barisan dan berkoordinasi melakukan represi.
Baca Juga: Dubes Iran Bongkar Infiltrasi Amerika dan Israel dalam Demonstrasi
Perubahan bermakna, menurutnya, hanya mungkin terjadi jika muncul retakan di inti kekuasaan, khususnya di layanan keamanan.
Retakan tersebut kecil kemungkinannya terjadi selama para elite yakin tidak memiliki jalan keluar dan masa depan di luar sistem.
Namun jika perhitungan itu berubah, keseimbangan kekuasaan dapat bergeser dengan cepat.
Namazi menyimpulkan bahwa masa depan Iran akan ditentukan bukan oleh satu peristiwa tunggal, melainkan oleh interaksi kompleks antara tekanan eksternal, kapasitas oposisi, kendali informasi, dan perhitungan elite internal.
Di antara kemungkinan runtuhnya rezim dan lahirnya demokrasi, terbentang fase transisi yang rapuh—dan berpotensi penuh kekerasan—yang biayanya kemungkinan besar harus ditanggung oleh masyarakat Iran sendiri.***