internasional

Pengamat: Iran Tak Bisa Kembali ke Status Quo, Demokrasi Juga Belum Pasti

Selasa, 27 Januari 2026 | 20:46 WIB
Ilustrasi, pengamat Timur Tengah Siamak Namazi menilai saat ini Iran tidak bisa kembali ke status quo dan ketidakpastian sistem demokrasi. (Pexels.com/Elif Ozlem Aydeniz)

Baca Juga: Tidak Ada Kantor Garda Revolusi Diduduki Demonstran, Sumber Senayan Post di Iran Ungkap Kondisi Iran Kini

2. Perilaku Oposisi

Namazi menekankan bahwa popularitas simbolik tidak sama dengan kapasitas organisasi.

Ia menyebut figur seperti Reza Pahlavi memiliki daya tarik emosional bagi sebagian masyarakat, namun oposisi secara keseluruhan masih terfragmentasi dan diliputi ketidakpercayaan.

Oposisi di luar negeri juga dinilai minim pengalaman dalam memimpin perlawanan sipil berkelanjutan.

Lebih jauh, Namazi mempertanyakan sejauh mana dukungan terhadap Pahlavi di dalam Iran benar-benar mencerminkan komitmen politik, atau sekadar luapan keputusasaan di tengah represi brutal.

Ia mencatat bahwa banyak warga yang merespons seruan protes justru berakhir menghadapi kekerasan negara, yang kemungkinan besar melemahkan kredibilitas kepemimpinan oposisi, bukan menguatkannya.

Di dalam dan di luar Iran, menurutnya, terdapat kelompok besar yang tidak terikat pada figur tertentu, melainkan hanya meyakini bahwa hampir apa pun lebih baik daripada rezim saat ini.

Baca Juga: Dubes Iran Ungkap Proyek Berdarah Mossad dan CIA: 2.427 Aparat dan Sipil Jadi Korban

3. Kontrol Informasi dan Konektivitas

Namazi menilai kemampuan negara untuk memutus internet, mengganggu komunikasi satelit, dan memisahkan kota-kota sebagai salah satu senjata paling efektif rezim.

"Keberanian tanpa koordinasi tidak dapat berkembang," tulisnya.

Mobilisasi berkelanjutan, pemogokan nasional, dan aksi kolektif bergantung pada komunikasi.

Selama negara mempertahankan kendali hampir total atas arus informasi, kemarahan publik akan sulit diubah menjadi tekanan politik yang tahan lama.

4. Dinamika Elit di Dalam Rezim

Halaman:

Tags

Terkini