internasional

Opini: Menilik Klaim Jihad HTS di Suriah, antara Ilusi Perlawanan dan Realitas Penindasan

Jumat, 8 Agustus 2025 | 18:06 WIB
Penulis menjelaskan bagaimana HTS yang dipimpin Abu Muhammad Al Julani mendefinisikan jihad yang realitanya adalah bughot. (X.com)

Protes yang melibatkan ratusan peserta kini telah berlangsung di seluruh Idlib.

Di Binnish, Mohammed Ali Basha yang berusia 29 tahun menghabiskan malam sebelum protes anti-HTS pekan lalu dengan mempersiapkan bendera dan spanduk bersama teman-temannya.

Aktivis tersebut melukis tiga bintang merah pada latar belakang hijau, putih, dan hitam bendera oposisi Suriah.

Spanduk besar yang sedang dipersiapkan menampilkan pesan yang ingin disampaikan Basha dan rekan-rekan pengunjuk rasa lainnya: bahwa revolusi Suriah, yang dimulai pada tahun 2011, bukan hanya melawan Presiden Bashar Al Assad, tetapi juga melawan semua 'tiran'.

Baca Juga: Pemimpin Kristen Suriah Kecam Presiden Ahmad Al Shara Usai Insiden Bom Gereja di Damaskus, Dianggap Gagal Lindungi Kaum Minoritas

Rezim HTS: Eksekusi Massal dan Pembantaian Sektarian

 Setelah mengambil alih tampuk kekuasaan dari Bashar Al Assad, pemerintahan sementara yang dipimpin oleh Ahmad Al Sharaa justru menunjukkan wajah kekerasan yang tak jauh berbeda—bahkan dalam beberapa aspek, lebih brutal.

Menurut laporan Syrian Observatory for Human Rights (SOHR) yang diterbitkan pada 6 Agustus 2025, HTS bertanggung jawab atas eksekusi setidaknya 1.568 orang, termasuk 349 warga sipil di Al Suwaidaa yang dieksekusi tanpa pengadilan.

Lembaga pemantau HAM tersebut mengecam tindakan itu sebagai eksekusi massal dan menegaskan bahwa praktik tersebut merupakan pelanggaran berat terhadap hak asasi manusia serta hukum humaniter internasional.

SOHR menegaskan bahwa eksekusi-eksekusi ini dilakukan oleh badan keamanan internal HTS, dan dalam banyak kasus, korbannya tidak diberi akses terhadap pembelaan hukum, pengadilan terbuka, atau proses hukum yang adil.

Lebih jauh, laporan dari Reuters pada 1 Juli 2025 mengungkap bahwa selama periode konflik di Latakia, setidaknya 1.500 warga Alawit menjadi korban pembantaian.

Rantai komando yang bertanggung jawab atas kejahatan ini mengarah ke Damaskus pada masa rezim Assad, namun pola kekerasannya terus berlanjut di bawah HTS yang kini berkuasa.

Laporan Reuters menyoroti bahwa pembantaian terhadap kelompok minoritas seperti Alawi maupun Druze telah menjadi bagian dari dinamika sektarian yang tidak hanya terjadi di bawah rezim Assad, tetapi juga dilakukan oleh kelompok-kelompok pemberontak radikal seperti HTS, dengan mengatasnamakan 'jihad'.

Baca Juga: Suriah Jadi Transit Serangan Israel dan Iran, Rezim Ahmad Al Sharaa Masih Diam Seribu Bahasa

Ulama Dunia Tidak Mengakui

Halaman:

Tags

Terkini