Pada musim panas 2016, HTS mengumumkan pemisahan diri dari Al Qaeda dan mengganti namanya menjadi Jabhat Fateh Al Sham (Front Pembebasan Syam), sebuah langkah yang sebagian besar dianggap tidak memiliki dampak praktis.
Pada awal 2017, setelah bentrok dengan kelompok garis keras lain di provinsi Idlib, Ahrar Al Sham, HTS membentuk organisasi baru bernama Hay'at Tahrir Al Sham.
Meskipun berbagai transformasi ini bertujuan untuk melepaskan label 'kelompok teroris', HTS tetap mempertahankan sejumlah anggota Al Qaeda tingkat tinggi di jajaran teratasnya, serta kontingen pejuang asing yang cukup besar.
Baca Juga: AS Cabut Status Teroris Asing HTS di Suriah yang dipimpin Ahmad Al Sharaa
Menurut Ahmad Abazeid, seorang analis Suriah yang berbasis di Istanbul, organisasi tersebut terpecah menjadi berbagai aliran, termasuk satu aliran yang menentang pemisahan diri dari Al Qaeda dan aliran lain yang mendorong kelompok bersenjata tersebut untuk fokus di Suriah.
Selama beberapa tahun terakhir, strategi utama badan intelijen Turki adalah mencoba mengeksploitasi perpecahan ini dan memecah belah kelompok tersebut dari dalam, kata Abazeid.
Ketika Turki mulai mengerahkan pasukannya di provinsi Idlib akhir tahun lalu menyusul kesepakatan de-eskalasi yang dicapai dengan Iran dan Rusia, Turki membutuhkan kerja sama dari semua kelompok bersenjata di Idlib, terutama HTS.
Menurut Khaled Rahal, mantan komandan oposisi moderat, pimpinan HTS setuju untuk bekerja sama hanya jika Turki mempertahankan kehadiran militernya di 12 titik pengamatan yang telah ditetapkan Ankara sebagai titik minimum.
Ketika Turki mulai mendirikan pos terdepan pertama Oktober lalu, HTS-lah yang menyediakan keamanan bagi mereka dan terus melakukannya hingga proses tersebut selesai pada bulan Mei tahun ini (2018).
Tahun demi tahun berlalu, HTS membawa jargon jihad dan perlawanan padahal sejatinya mereka merebut wilayah sipil, memungut pajak, mengatur dengan kekuatan militer, dan menjadikan Idlib sebagai 'wilayah kuasa'.
Terbukti pada pertengahan 2024, dikutip dari Al Jazeera, ratusan warga di Suriah barat laut telah turun ke jalan dalam beberapa pekan terakhir untuk memprotes kelompok bersenjata yang dibentuk dari faksi sempalan Al Qaeda.
Protes terhadap HTS, yang menguasai sebagian besar provinsi Idlib, dimulai pada 25 Februari di Sarmada, dekat perbatasan Suriah-Turki.
Didorong oleh perlakuan terhadap tahanan oleh badan keamanan kelompok tersebut, Dinas Keamanan Umum (GSS), para pengunjuk rasa membawa spanduk yang menyebut penjara HTS sebagai 'rumah jagal'.
Baca Juga: Tandatangani Perintah Eksekutif, Presiden AS Donald Trump Cabut Sanksi terhadap Suriah