SENAYANPOST - Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu telah umumkan kematian Yahya Sinwar, Kepala Biro Politik Hamas yang menggantikan Ismail Haniyeh.
Netanyahu dalam pidatonya mengklaim bahwa Israel telah berhasil membunuh otak dari operasi 7 Oktober 2023 yang dikenal sebagai Badai Al Aqsa.
Meskipun Israel berhasil menyingkirkan Yahya Sinwar, Netanyahu tetap berambisi untuk terus melanjutkan perang di Jalur Gaza.
"Setahun yang lalu, Yahya Sinwar, pemimpin teroris Hamas, melancarkan pembantaian 7 Oktober terhadap Israel," kata Benjamin Netanyahu dalam konferensi persnya pada 18 Oktober 2024.
Baca Juga: Israel Penjajah Kembali Serang UNIFIL, Dua Kamera Hancur dan Menara Pengawas Rusak
Ia mengakui serangan tersebut adalah salah satu serangan mematikan sepanjang sejarah Israel.
"Itu adalah serangan paling berdarah terhadap orang-orang Yahudi sejak Holocaust. Itu adalah serangan terburuk terhadap negara Yahudi sejak berdirinya Israel," lanjutnya.
"Teroris Sinwar membunuh dengan kejam 1.200 orang. Itu orang tua, korban Holocaust, anak-anak," ungkapnya.
Netanyahu kembali mengangkat klaim bahwa pejuang Perlawanan Palestina telah membunuh lebih dari seribu orang kemudian melakukan tindakan tidak senonoh.
Dalam investigasi independen, ditemukan bahwa seribu lebih warga sipil Israel itu tewas karena operasi Hannibal Directive.
Baca Juga: Puluhan Organisasi Kemanusiaan Sebut Israel Lakukan Pembersihan Etnis di Gaza Utara
Operasi tersebut dilakukan agar pejuang Palestina tidak bisa menahan warga sipil Israel untuk dijadikan sandera dan ditukar dengan warga sipil Palestina yang ditahan oleh pendudukan sejak lama.
Diketahui, sudah ada 10.400 warga sipil Palestina yang ditahan di penjara-penjara Israel dan menunggu untuk dibebaskan atau ditukar.
"Mereka memperkosa wanita secara brutal. Mereka memenggal kepala pria. Mereka membakar bayi hidup-hidup," ujarnya.