Hamas secara bertahap akan membebaskan 33 tawanan (baik tawanan yang masih hidup atau sisa tawanan yang sudah meninggal) pada tahap pertama.
Yang ditawan adalah perempuan, siapa pun yang berusia di atas 50 tahun, mereka yang sakit, atau bukan tentara yang berusia di bawah 19 tahun.
Untuk setiap tawanan warga sipil Israel yang dibebaskan hidup-hidup, Israel akan membebaskan 30 warga Palestina yang ditahannya.
Untuk setiap tentara wanita yang dibebaskan Hamas, Israel akan membebaskan 50 warga Palestina.
Penarikan pasukan Israel akan memungkinkan warga sipil Palestina yang kehilangan tempat tinggal untuk kembali ke rumah mereka di Gaza, yang akan terjadi secara bertahap seiring pembebasan tawanan Hamas.
Secara terpisah, kesepakatan tersebut menetapkan bahwa pekerjaan rekonstruksi di Gaza harus dimulai pada fase ini, begitu pula aliran bantuan, dan bahwa UNRWA serta organisasi bantuan lainnya diizinkan bekerja untuk membantu warga sipil.
Pada fase kedua perjanjian, operasi militer akan dihentikan secara permanen dan penarikan penuh Israel dari Gaza.
Juga akan ada pertukaran tahanan lainnya, kali ini melibatkan seluruh pria Israel yang tersisa, termasuk tentara yang ditawan di Gaza.
Baca Juga: Hamas Terima Tanggapan Resmi dari Penjajah Israel Terkait Gencatan Senjata di Gaza
Warga Israel akan dibebaskan sebagai imbalan atas jumlah tahanan Palestina yang belum ditentukan.
Fase ketiga adalah pertukaran sisa-sisa tawanan dan tahanan yang ditahan oleh kedua belah pihak.
Dari sisi pembangunan, fase ini akan melibatkan rencana rekonstruksi Gaza untuk jangka waktu tiga hingga lima tahun dan, mungkin yang paling penting, diakhirinya blokade Israel terhadap wilayah tersebut.
Reaksi Israel
Israel pada hari Senin mengatakan kepada warga Palestina di Rafah timur untuk meninggalkan wilayah tersebut ketika mereka bersiap untuk melancarkan kampanye militer di wilayah selatan Gaza, meskipun ada tentangan dari dunia internasional.