Laporan: AS Usulkan Pembicaraan JD Vance dengan Ketua Parlemen Iran, Turki Jadi Salah Satu Perantara

photo author
Amila Y F, Senayan Post
- Rabu, 25 Maret 2026 | 19:06 WIB
Sebuah laporan mengabarkan usulan AS untuk pembicaraan antara Wapres JD Vance dan Ketua Perlemen Iran Mohammad Bagher Ghalibaf. (X.com/@mb_ghalibaf)
Sebuah laporan mengabarkan usulan AS untuk pembicaraan antara Wapres JD Vance dan Ketua Perlemen Iran Mohammad Bagher Ghalibaf. (X.com/@mb_ghalibaf)

SENAYANPOST - Amerika Serikat telah mengusulkan diadakannya pembicaraan antara Wakil Presiden JD Vance dan Ketua Parlemen Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf.

Informasi tersebut didapatkan dari sebuah sumber Turki yang dikonfirmasi oleh Al Monitor, dalam potensi perubahan upaya untuk membuka saluran diplomatik dengan Teheran menjelang satu bulan perang.

Usulan pembicaraan tersebut disampaikan melalui perantara, termasuk Turki, kata sumber tersebut.

Menteri Luar Negeri Turki Hakan Fidan membahas upaya untuk mengakhiri perang pada hari Senin dengan Menteri Luar Negeri Saudi Pangeran Faisal bin Farhan, Menteri Luar Negeri Mesir Badr Abdelatty, dan Menteri Luar Negeri Pakistan Ishaq Dar, kata sebuah sumber diplomatik Turki.

Baca Juga: Duta Besar Mohammad Boroujerdi Puji Solidaritas Indonesia untuk Rakyat Iran di Tengah Agresi Militer

Pembicaraan tersebut terjadi setelah pembicaraan Fidan pada hari Minggu dengan pejabat AS dan mitranya dari Iran, Abbas Araghchi.

Sebagai bagian dari upaya tersebut, rencana juga sedang disusun untuk potensi pertemuan di Islamabad yang melibatkan pejabat senior AS dan Iran, lapor Financial Times, mengutip pejabat yang diberi informasi tentang diskusi tersebut.


Inisiatif tersebut, yang difasilitasi oleh Pakistan dengan dukungan dari mitra regional, merupakan bagian dari upaya yang lebih luas untuk membangun saluran tidak langsung yang bertujuan untuk meredakan perang, demikian laporan tersebut.

Iran belum menanggapi proposal tersebut, kata sumber itu sebagaimana dilansir SenayanPost.com dari Al Monitor pada 23 Maret 2026.

Proposal tersebut pertama kali dilaporkan oleh Iran Nuances ketika Presiden AS Donald Trump mengumumkan pada hari Senin bahwa ia menghentikan serangan terhadap infrastruktur energi Iran selama lima hari, dengan alasan pembicaraan yang 'produktif'.

Baca Juga: WFP: Konflik Iran Bisa Picu Rekor Kelaparan Global Tertinggi dalam Sejarah Manusia

Pengumuman Trump tentang pembicaraan tersebut datang setelah ia mengeluarkan ultimatum 48 jam kepada Iran untuk membuka kembali Selat Hormuz pada hari Sabtu, memperingatkan bahwa Amerika Serikat akan mulai menyerang infrastruktur energi Iran jika tidak.

Harga minyak melonjak hingga sekitar 100-110 dolar AS per barel di tengah kekhawatiran pasokan, sebelum turun sekitar 9 persen setelah pengumuman tersebut.

Ghalibaf, pada gilirannya, mengatakan bahwa belum ada negosiasi yang dilakukan dengan Amerika Serikat, tetapi tidak secara eksplisit mengesampingkan mediasi pihak ketiga.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Amila Y F

Sumber: Al Monitor

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X