Pengamat: Demokrasi Iran Masih Bersifat Utopis, Perubahan Rezim Tak Akan Berujung Runtuhnya Republik Islam

photo author
Amila Y F, Senayan Post
- Senin, 2 Februari 2026 | 20:03 WIB
Ilustrasi, pengamat Timur Tengah Danny Citrinowicz berkomentar soal perubahan rezim di Iran dan kemungkinan soal demokrasi di negeri Mullah. (Unsplash.com/Hadi Yazdi Aznaveh)
Ilustrasi, pengamat Timur Tengah Danny Citrinowicz berkomentar soal perubahan rezim di Iran dan kemungkinan soal demokrasi di negeri Mullah. (Unsplash.com/Hadi Yazdi Aznaveh)

SENAYANPOST - Pengamat keamanan Timur Tengah Danny Citrinowicz menilai bahwa gagasan tentang Iran yang segera berubah menjadi negara demokrasi masih bersifat aspiratif, bahkan utopis.

Menurutnya, dalam sebagian besar skenario yang realistis, perubahan rezim seperti yang sering diharapkan Barat—dan mungkin juga Israel—kecil kemungkinan akan terwujud.

Citrinowicz menyebut bahwa Republik Islam Iran saat ini tidak memiliki oposisi yang kredibel, terorganisir, dan siap mengambil alih kekuasaan.

Di sisi lain, proses suksesi pasca wafatnya Pemimpin Tertinggi Ali Khamenei juga masih diliputi ketidakpastian.

Baca Juga: Strategi Iran Hadapi Kemungkinan Agresi Militer AS, Respons Bertahap atau Eskalasi Konflik? Ini Kata Pakar HI dan Pertahanan

"Meskipun prosedur formal memang ada, transisi dari Khomeini ke Khamenei menunjukkan bahwa pertarungan kekuasaan di balik layar—bukan mekanisme institusional—yang pada akhirnya menentukan hasil," tulis Citrinowicz pada 2 Februari 2026, dikutip SenayanPost.com dari X @citrinowicz.

Ia menegaskan bahwa siapa pun yang kelak menggantikan Khamenei, selama tidak ada perubahan kebijakan yang substansial, sistem Republik Islam kemungkinan besar akan mereproduksi dirinya sendiri dalam bentuk lain.

Karena itu, anggapan bahwa kepergian Khamenei otomatis akan memicu runtuhnya Republik Islam dinilainya keliru.

Namun demikian, Citrinowicz mengakui bahwa wafatnya Khamenei tetap akan menjadi perubahan rezim dalam arti simbolik dan struktural, mengingat peran sentralnya dalam menopang sistem selama lebih dari tiga dekade.

Baca Juga: Presiden AS Donald Trump Tanggapi Pernyataan Ayatollah Ali Khamenei soal Risiko Perang Regional

"Mereka yang percaya bahwa kepergian Khamenei akan menyebabkan runtuhnya Republik Islam adalah keliru," tulisnya.

Lebih lanjut, Citrinowicz menilai bahwa harapan terhadap perubahan yang didorong dari luar—baik melalui tekanan internasional maupun intervensi—sebagian besar tidak relevan.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Amila Y F

Sumber: X @citrinowicz

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X