Serial One Piece Live Action dari Netflix Bakal Hadapi Kontroversi Terbesarnya, Apa Itu?

photo author
Amila Y F, Senayan Post
- Jumat, 22 Agustus 2025 | 15:05 WIB
Seri One Piece Live Action dari Netflix mungkin akan hadapi kontroversi terbesarnya setelah munculnya Vivi dan Chopper. (X.com/@onepiecenetflix)
Seri One Piece Live Action dari Netflix mungkin akan hadapi kontroversi terbesarnya setelah munculnya Vivi dan Chopper. (X.com/@onepiecenetflix)

SENAYANPOST - Setelah Vivi Nefertari dan Tony Tony Chopper dipastikan muncul dalam One Piece Live Action Season 2, mungkin saja serial ini akan menghadapi kontroversi lainnya.

Meskipun kemunculan Vivi dan Chopper menimbulkan kehebohan di antara penggemar, serial live action nampaknya harus berhadapan dengan kontroversi terbesarnya.

Tantangan terbesar Netflix yang akan datang sekali lagi berkaitan dengan salah satu karakter paling dicintai dalam serial ini, Bon Clay.

Dikenal juga sebagai Mr. 2 atau Bentham, Bon Clay mungkin merupakan salah satu anggota Baroque Works yang paling dinantikan, selain Nico Robin dan pemimpin mereka, Crocodile.

Baca Juga: Jadwal Tayang dan Link Nonton Anime One Piece Episode 1139 Sub Indo

Namun, hadirnya Bon Clay ke dalam versi live-action mungkin lebih sulit daripada yang terlihat, karena karakternya mudah disalahpahami dan dianggap ofensif pada pandangan pertama.

One Piece Netflix Mungkin Menghidupkan Kembali Kontroversi Vivi-nya dengan Bon Clay

Selain menjadi antagonis utama yang berubah menjadi sekutu Arc Alabasta, Bon Clay juga merupakan 'okama' pertama yang ditemui penggemar di One Piece.

Sekilas, Bon Clay dan okama mungkin tampak seperti karikatur homofobik dan transfobik, terutama di mata orang Barat.

Namun, istilah 'okama' memiliki makna dan sejarah yang mendalam yang mungkin belum banyak diketahui.

Baca Juga: One Piece Siapkan Kejutan Baru untuk Penggemar, Bakal Unjuk Momen Legendaris Ini!

Awalnya, kata tersebut digunakan sebagai hinaan di Jepang, yang kemungkinan menjadi alasan mengapa sulih suara bahasa Inggris One Piece melokalisasinya sebagai 'new kama'.

Sejak saat itu, istilah tersebut sedikit banyak direklamasi, meskipun masih digunakan dengan bijaksana.

Meskipun demikian, istilah ini pada dasarnya merujuk pada mereka yang mengaburkan batasan estetika gender tradisional secara nyata namun tidak spesifik.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Amila Y F

Sumber: Comic Book

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X