SENAYANPOST - Pertempuran saling serang antara Iran dan Israel masih berlangsung. Sejak Jumat 13 Juni 2025 dini hari, Israel melancarkan serangan atas Iran menarget sejumlah fasilitas pengayaan uranium hingga sejumlah pejabat militer.
Malam harinya, Iran membalas dengan menembakkan ratusan rudal dan drone menarget sejumlah fasilitas militer Israel, termasuk sistem pertahanan Iron Dome yang berada di bawah pemukiman warga sipil.
“Aksi balasan Iran, propirsional sesuai dengan target serangan seperti fasilitas militer, maka kami balas menyerang fasilitas militer. Mereka serang fasilitas ekonomi, kami serang fasilitas ekonomi. Kami menjaga proporsionalitas serangan balasan kepada Israel,” jelas dalam konfrensi pers dengan berbagai wartawan di Rumah Dinas Dubes Iran di kawasan Mentang Jakarta Pusat pada Selasa 17 Juni 2025.
Diplomat senior Iran ini mengungkapkan bahwa Israel tidak pernah patuh kepada tata tertib hukum internasional.
“Rezim ini telah menyerang hampir seluruh tetangganya. Sejak munculnya di tahun 1948, telah 20 kali berperang. Mereka juga melanggar aturan untuk tidak menyerang fasilitas nuklir tetapi mereka menyerang fasilitas nuklir kami,” tegasnya.
Dubes Iran untuk Indonesia ini mengomentari pernyataan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu terkait pembenaran serangan Israel sebagai pembelaan diri, bahwa hal tersebut tidak dibernarkan dalam Piagam Persyarikatan Bangsa Bangsa.
“Rezim Zionis membenarkan serangannya untuk bertahan akan apa yang akan terjadi, konsep serangan ini tidak dibenarkan karena belum terjadi. Landasan balasan Iran adalah Pasal 51 Piagam PBB,” ungkapnya.
Dubes Iran dalam berbagai pertemuan, mendapatkan pertanyaan dari banyak pihak apakah Iran akan terus melanjutkan balasan kepada Israel.
Selama Iran diserang, kami akan terus membalas sebagai upaya bela diri. Iran bukan Gaza yang tidak bisa membela diri. Iran negara kuat yang mampu membela diri. Ini momentum bagi bangsa-bangsa yang selama ini dizalimi Zionis Israel. Ketika kami menyerang Israel, rakyat Palestina dan Lebanon bergembira.*