Laporan: Perundingan Gencatan Senjata di Gaza Terhenti, Hamas dan Israel Penjajah Temui Jalan Buntu

photo author
Amila Y F, Senayan Post
- Rabu, 1 Januari 2025 | 18:08 WIB
Perundingan gencatan senjata di Gaza dikabarkan terhenti, Hamas dan Israel dilaporkan menemui jalan buntu. (X.com/@UNRWA)
Perundingan gencatan senjata di Gaza dikabarkan terhenti, Hamas dan Israel dilaporkan menemui jalan buntu. (X.com/@UNRWA)

SENAYANPOST - Awal 2025, perundingan gencatan senjata di Gaza antara Hamas dan Israel penjajah masih berlangsung.

Menurut laporan Wall Street Journal (WSJ) mengungkapkan bahwa negosiasi antara Hamas dan Israel kembali menemui jalan buntu.

Laporan WSJ terkait perkembangan perundingan gencatan senjata ini bersumber dari 'mediator Arab'.

"Menemui jalan buntu dalam beberapa hari terakhir," kata sumber tersebut sebagaimana dikutip SenayanPost.com dari Quds News Network pada 1 Januari 2025.

Baca Juga: WHO Sebut Israel Jadikan Rumah Sakit di Jalur Gaza Medan Perang, Minta Penjajah Bebaskan Dr Hussam Abu Safiya

WSJ mengatakan kedua belah pihak sedang mempertimbangkan gencatan senjata selama 60 hari di mana hingga 30 tawanan Israel yang ditahan di Gaza akan dibebaskan.

Sebagai gantinya, Israel akan membebaskan tahanan Palestina dan mengizinkan lebih banyak bantuan kemanusiaan mengalir ke Gaza, kata para mediator.

Namun, perundingan kini terhenti, karena mereka semakin mendalami hal-hal spesifik, tambah laporan itu.

"Para mediator mengatakan Israel bersikeras bahwa mereka hanya menerima sandera hidup dalam pertukaran apa pun dan menolak menyetujui pembebasan beberapa tahanan Palestina yang diminta oleh Hamas," lanjut laporan tersebut.

Baca Juga: WHO Kutuk Keras Agresi Israel Penjajah ke RS Kamal Adwan di Gaza Utara: Kengerian Ini Harus Berakhir

Hamas juga menuntut gencatan senjata menjadi 'jalan menuju berakhirnya perang', tambahnya.

Menurut WSJ, seorang pejabat AS mengatakan struktur kesepakatan potensial belum berubah sejak musim semi, tetapi isu paling signifikan yang kini memisahkan kedua belah pihak adalah tentang tawanan dan tahanan.

Ditambahkan pula bahwa mediator Arab mengatakan mereka berharap kedua belah pihak akan kembali ke meja perundingan setelah pemerintahan baru mengambil alih di Washington.***

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Amila Y F

Sumber: Quds News Network

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X