PEMULIHAN HUBUNGAN DIPLOMATIK IRAN-ARAB SAUDI DAN DAMPAKNYA BAGI DUNIA ISLAM

photo author
Mushab Muuqoddas, Senayan Post
- Sabtu, 2 November 2024 | 21:37 WIB
Iran dan Arab Saudi berencana latihan militer gabungan di Laut Merah menyusul meningkatnya tensi di Timur Tengah. (X.com/@KSAmofaEN)
Iran dan Arab Saudi berencana latihan militer gabungan di Laut Merah menyusul meningkatnya tensi di Timur Tengah. (X.com/@KSAmofaEN)

 

Oleh : Mujahidin Nur, Direktur Eksekutif Peace Literacy Institue Indonesia & Ketua Departemen Luar Negeri & Hubungan Antar Lembaga BKM (Badan Kesejahteraan Masjid).

Hubungan antara Iran dan Arab Saudi menjadi salah satu poros yang memengaruhi perdamaian dan stabilitas di Timur Tengah dan dunia Islam secara keseluruhan. Kedua negara tersebut tidak hanya kaya akan sumber daya alam, terutama minyak, tetapi juga memiliki pengaruh besar dalam politik internasional dan agama Islam.

Selama beberapa dekade terakhir, hubungan antara Iran dan Arab Saudi lebih banyak diwarnai oleh ketegangan dan persaingan, yang sering kali tercermin dalam konflik sektarian dan proxy war di berbagai wilayah seperti Suriah (2011) dan Yaman (2015).

Iran pernah menghentikan pengiriman Jamaah Haji dan menyalahkan Arab Saudi karena tragedi desak-desakkan yang menyebabkan 400 jamaah haji Iran meninggal dunia (2016). Ketegangan ini berdampak luas, tidak hanya pada kedua negara tersebut, tetapi juga pada stabilitas kawasan dan berdampak pada umat Islam di seluruh dunia.

Setelah Revolusi Islam Iran pada tahun 1979, dinamika politik kawasan Timur Tengah berubah secara signifikan. Iran berubah menjadi negara Republik Islam yang mengusung pandangan Syiah, sementara Arab Saudi yang merupakan pusat dunia Islam Sunni merasa khawatir dengan pengaruh revolusi tersebut.

Sejak saat itu, kedua negara ini sering kali terlibat dalam perselisihan dan persaingan untuk menunjukkan pengaruh mereka di Timur Tengah. Iran mencoba memperluas pengaruhnya melalui dukungan kepada berbagai kelompok Syiah di setiap penjuru negara, sementara Arab Saudi secara aktif mendukung kelompok-kelompok Sunni. Persaingan ini sering kali terlihat dalam bentuk dukungan terhadap pihak-pihak yang berlawanan dalam berbagai konflik regional.

Meskipun begitu, dalam beberapa tahun terakhir, terdapat tanda-tanda positif atas adanya upaya pemulihan hubungan diplomatik yang dilakukan oleh kedua negara tersebut. Tepatnya pada tanggal 10 Maret 2023, yang ditengahi oleh China dalam sebuah pembicaraan di Beijing, menyatakan bahwa kedua Iran dan Arab Saudi akan saling membuka kedutaan besarnya kembali. Hal ini menjadi salah satu momen penting ketika dua negera ini mengumumkan pemulihan hubungan diplomatik setelah lebih dari tujuh tahun mengalami ketegangan dan putusnya hubungan.

Selain China, upaya diplomatik ini juga dimediasi oleh negara-negara seperti Irak dan Oman, yang secara aktif berusaha mempertemukan Iran dan Arab Saudi dalam dialog untuk meredakan ketegangan yang telah berlangsung lama. Langkah ini tidak hanya menjadi sinyal positif bagi stabilitas kawasan, tetapi juga membuka peluang kerja sama di berbagai bidang yang lebih luas.

Pemulihan hubungan diplomatik antara Iran dan Arab Saudi dapat membawa dampak besar bagi dunia Islam secara keseluruhan. Pertama, perdamaian antara kedua negara ini diharapkan dapat mengurangi konflik-konflik sektarian yang selama ini menjadi pemicu ketidakstabilan di kawasan. Ketika Iran dan Arab Saudi sepakat untuk tidak lagi terlibat dalam persaingan destruktif, negara-negara di kawasan akan memiliki peluang lebih besar untuk fokus pada pembangunan dan kesejahteraan masyarakatnya.

Perdamaian antara Iran dan Arab Saudi juga dapat mengurangi intervensi asing di kawasan, yang selama ini sering memanfaatkan ketegangan antara kedua negara tersebut untuk kepentingan mereka sendiri. Sedangkan dalam bidang ekonomi, pemulihan hubungan ini juga membuka peluang bagi kerja sama yang lebih erat antara Iran dan Arab Saudi.

Iran dan Arab Saudi adalah negera yang memproduksi minyak terbesar di dunia, sehingga memiliki potensi besar untuk saling bekerja sama dalam mengelola pasokan minyak global. Dengan adanya hubungan yang lebih baik, kedua negara ini dapat merumuskan kebijakan energi yang saling menguntungkan dan memberikan stabilitas pada pasar energi global.

Dalam hubungan ekonomi yang lebih erat ini juga dapat mendorong pertumbuhan ekonomi di kawasan, yang pada akhirnya akan menguntungkan negara-negara Islam lainnya. Dalam jangka panjang, kerja sama ini juga berpotensi mendorong integrasi ekonomi regional yang lebih baik, yang dapat memperkuat dunia Islam dalam menghadapi tantangan global.

Solidaritas dunia Islam juga diharapkan meningkat dengan adanya hubungan yang lebih baik antara Iran dan Arab Saudi. Sebagai negara dengan populasi muslim terbesar di kawasan, keduanya memiliki peran penting dalam memperjuangkan isu-isu global yang memengaruhi umat Islam. Contohnya, isu Palestina menjadi salah satu isu utama yang disuarakan oleh kedua negara di berbagai forum internasional. Dengan adanya kerja sama yang lebih baik, suara dunia Islam diharapkan bisa lebih kuat dan memiliki pengaruh yang lebih besar dalam perundingan internasional.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Mushab Muuqoddas

Tags

Rekomendasi

Terkini

X