Risiko Tinggi
Segera setelah pembunuhan pemimpin Hamas Ismail Haniyeh pada tanggal 31 Juli, AS mengirim pasukan militer tambahan ke Timur Tengah untuk mengantisipasi serangan balasan. AS menegaskan bahwa pengerahan itu bersifat "defensif".
Baca Juga: Hamas akan Umumkan Kepala Biro Politik Baru Usai Ismail Haniyeh Gugur Diroket Israel
Kepala Komando Pusat AS, Jenderal Michael Kurilla, dilaporkan akan tiba di Israel pada hari Senin untuk "menyelesaikan persiapan" dengan tentara Israel "menjelang kemungkinan serangan", Axios melaporkan.
Menteri Pertahanan Israel Yoav Gallant mengeluarkan peringatan usai pembunuhan petinggi Hamas.
"Jika mereka berani menyerang kita, mereka akan membayar harga yang mahal," kata Gallant.
Perang yang berlangsung lebih dari 10 bulan di Gaza antara Israel dan Hamas telah menyebabkan permusuhan tingkat rendah antara Israel dan Iran serta Hizbullah, serta kelompok lain di kawasan yang bersekutu dengan Teheran.
Baca Juga: Presiden Joe Biden Mundur dari Pilpres AS 2024, Kemungkinan Ini Penyebabnya
Secara luas diperkirakan bahwa tidak ada pihak yang siap untuk perang habis-habisan, tetapi ketegangan yang meningkat berarti risiko terjadinya konflik besar-besaran menjadi tinggi.***
Artikel Terkait
Iran Lakukan Investigasi Kasus Pembunuhan Ismail Haniyeh Kepala Biro Politik Hamas
Profil Ismail Haniyeh, Kepala Biro Politik Hamas yang Jadi Target Pembunuhan di Iran
Israel Penjajah Nyaris Bungkam saat Pemimpin Hamas Ismail Haniyeh Dibunuh di Iran
Hadiri Sholat Ghaib untuk Ismail Haniyeh, Dubes Iran Nyatakan Balasan Lebih Keras untuk Israel
Pernyataan Resmi Kedutaan Besar Iran di Jakarta Terhadap Pembunuhan Ismail Haniyeh