Iran Lakukan Investigasi Kasus Pembunuhan Ismail Haniyeh Kepala Biro Politik Hamas

photo author
Amila Y F, Senayan Post
- Rabu, 31 Juli 2024 | 17:01 WIB
Pemerintah Iran akan melakukan investigasi terhadap pembunuhan Ismail Haniyeh Kepala Biro Politik Hamas. (hamasinfo.info)
Pemerintah Iran akan melakukan investigasi terhadap pembunuhan Ismail Haniyeh Kepala Biro Politik Hamas. (hamasinfo.info)

Baca Juga: Ismail Haniye atau Yahya Sinwar, Siapa Penguasa Hamas Sebenarnya ?

Australia lewat Kementerian Pertahanannya mengkhawatirkan eskalasi di Timur Tengah.

"Orang ini merupakan tokoh utama dalam berbagai kegiatan yang terjadi pada 7 Oktober, kegiatan yang secara konsisten kami kecam," kata Menteri Pertahanan Richard Marles pada 31 Juli 2024, dikutip SenayanPost.com dari Al Jazeera.

"Meskipun demikian, kami secara konsisten telah mengadvokasi gencatan senjata di Timur Tengah untuk mengakhiri bencana yang sedang terjadi. Kami tentu ingin memastikan bahwa kami tidak melihat eskalasi," tambahnya.

Kemudian China mengaku prihatin atas insiden yang terjadi di Iran hingga merenggut nyawa petinggi Hamas.

Baca Juga: Cek Fakta: Benarkah Tiga Anak Ismail Haniyeh Hidup Mewah di Turki?

"Kami sangat prihatin dengan insiden tersebut dan dengan tegas menentang dan mengutuk pembunuhan tersebut," kata juru bicara kementerian luar negeri Lin Jian.

China menegaskan bahwa negosiasi gencatan senjata permanen harus segera tercapai.

"Gaza harus mencapai gencatan senjata yang komprehensif dan permanen sesegera mungkin," lanjutnya.

Sementara itu, Malaysia meminta penyelidikan menyeluruh atas pembunuhan ini.

"Malaysia mendesak penyelidikan segera dan menyeluruh atas pembunuhan ini, dan mereka yang bertanggung jawab harus diadili. Malaysia juga mendesak semua pihak untuk menahan diri sementara fakta-fakta seputar pembunuhan tersebut sedang diungkap," kata Kementerian Luar Negeri Malaysia dalam sebuah pernyataan.

Baca Juga: Penjajah Israel 'Ogah-ogahan' Gencatan Senjata di Gaza, Ismail Haniyeh Sebut Hamas Siap Capai Kesepakatan

"Insiden tersebut menggarisbawahi kebutuhan mendesak untuk de-eskalasi dan memperkuat perlunya semua pihak untuk terlibat dalam dialog yang konstruktif dan mengejar resolusi damai," lanjut pernyataan tersebut.***

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Amila Y F

Sumber: Al Jazeera, Al Mayadeen English

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X