Mush’ab Muqoddas
Pimred Senayan Post
Pada Hari Raya Idul Fitri Rabu 10 April 2024 tepatnya di malam hari, Israel Defense Force (IDF) dan dinas keamanan dalam negeri Israel, Shin Bet, melancarkan serangan udara atas Jalur Gaza Palestina yang mengakibatkan yang menewaskan 3 (tiga) anak Kepala Politbiro Gerakan Hamas, Ismail Haniyah, yaitu Muhammad, Amir dan Hazim, beserta beberapa anak mereka bertiga.
Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu pada Kamis 11 April 2024 menyampaikan bahwa pihaknya tidak mendapatkan informasi dan konfirmasi bahwa IDF akan melancarkan serangan kepada keluarga Ismail Haniyah. Sementara itu, IDF berkilah bahwa ketiganya dianggap sama dengan milisi bersenjata Gerakan Hamas lainnya. Israel terus berdalih bahwa serangan tersebut merupakan upaya tekanan kepada Gerakan Hamas agar segera membebaskan para sandera.
Sebelumnya, pada akhir Maret 2024, Kepala Politbiro Gerakan Hamas, Ismail Haniyah, memimpin delegasi Politbiro Gerakan Hamas ke Teheran Iran bertemu dengan Pemimpin Spiritual Tertinggi Iran Ayatullah Ali Khamanei, Presiden Iran Ibrahim Raisi dan Menteri Luar Negeri Iran Husian Amir Abdul Lahiyan.
Tujuan pertemuan tersebut hanya satu, meminta kepada Iran agar mendesak Ketua Gerakan Hamas, Yahya Sinwar, agar bersedia segera berunding dengan Israel, dan tindak memperlambat proses gencatan senjata.
Situs Berita dan Kajian Arab London pada 27 Maret 2024 menyebutkan adanya kekecewaan dari Yahya Sinwar selaku pemimpin tertinggi Gerakan Hamas dengan Politbiro Gerakan Hamas yang para personalianya berada di luar negeri seperti Ismail Haniyah, Khalid Mishal dan Ahid Abu Atho.
Ketua Gerakan Hamas Yahya Sinwar menuding para tokoh-tokoh Gerakan Hamas yang berada di luar negeri mengkorupsi uang dari dana donasi yang dikumpulkan dari sumbangan-sumbangan di berbagai negara, baik Negara Arab, Negara Islam atau lainnya.
Iran merupakan satu-satunya pihak yang didengar oleh Ketua Gerakan Hamas, Yahya Sinwar, karena memberikan bantuan militer baik persenjataan dan pelatihan bagi milisi-milisi Gerakan Hamas. Hutang budi Yahya Sinwar kepada Iran mengakibatkannya sangat bergantung kepada Iran serta Hizbullah yang menguasai Lebanon Selatan dan Al Houthi di Yaman.
Konflik internal di dalam Gerakan Hamas akan mempersulit perundingan dan gencatan senjata. Qatar yang menampung Ismail Haniyah dan sejumlah tokoh Gerakan Hamas harus berusaha lebih keras agar perselisihan di internal Gerakan Hamas tidak berkembang menjadi konflik antar faksi di dalam Gerakan Hamas sendiri, yang dapat menjadi konflik bersenjata di antara mereka, yang akan semakin memperkeruh konflik internal antar elemen Palestina.
Tidak solidnya para pemimpin Gerakan Hamas akan semakin memperlambat proses negosiasi dan perundingan dengan Israel, sehingga Qatar sebagai mediator harus berusaha lebih keras agar aspirasi Gerakan Hamas tetapi menjadi satu aspirasi dan satu pandangan. Hal ini menandakan Israel dan milisi-milisi Gerakan Hamas akan terus saling menyerang, sehingga korban sipil yang terdampak akan semakin banyak.
Rekonsiliasi antar elemen Palestina akan semakin sulit karena perpecahan di dalam tubuh Gerakan Hamas, yang akan kesulitan dalam konsolidasi aspirasi politiknya. Langkah dan pilihan politik Presiden Palestina Mahmud Abbas untuk membentuk pemerintahan zaken di bawah Perdana Menteri Palestina Muhammad Mustafa, adalah langkah tepat agar kebijakan pemerintahan nanti tidak bergantung pada restu elemen-elemen politik speerti Gerakan Fatah dan Gerakan Hamas. Keduanya bersama elemen-elemen politik Palestina lainnya hanya berfungsi sebagai pengkritik kebijakan pemerintahan yang akan berfokus pada rekonstruksi Jalur Gaza Palestina dan pemilu.