Untuk memperkirakan sejauh mana trauma Israel, kita dapat dengan mudah membandingkan tanggal 8 Oktober lalu dengan apa yang dialami Israel satu hari sebelum tanggal 7 Oktober dengan tanggal 6 Oktober pada tahun 2023, negara dan rakyat Israel hidup dalam keadaan yang benar-benar berbeda.
Masalah Palestina dan hak-hak warga Palestina tidak menjadi prioritas dalam agenda internasional atau regional, dan masyarakat Israel secara diam-diam dan terus-menerus beralih ke kelompok-kelompok Ekstrem Kanan di tengah dunia yang sibuk dengan perang Rusia-Ukraina serta dampak ekonominya yang mengakibatkan polarisasi antara negara-negara adidaya dan negara adikuasa.
Meskipun Israel mengandalkan keberhasilannya dalam Abraham Accord, Israel telah mulai mengatur dan bersiap untuk menyelesaikan perjanjian serupa dengan Kerajaan Arab Saudi, meskipun Israel harus membayar sejumlah biaya tambahan menghasikan kontroversi di internal Israel yang melihat bahwa jika langkah ini berhasil, maka akan tercapai integrasi regional yang lebih besar yang telah diimpikan negara Israel sejak pendiriannya.
Setelah 150 hari perang, kesenjangan antara dua peristiwa yang terjadi antara tanggal 6 dan 8 Oktober nampaknya sangat besar, dan yang mengejutkan adalah bahwa di bawah pengaruh guncangan tersebut, Israel juga percaya bahwa dengan agenda reaksi yang telah dijalankannya, Israel mampu melakukan pemulihan sebagaimana situasi sebelum pecahnya perang itu.
Interaksi nyata atas apa yang terjadi di Israel dapat diamati dengan cara yang berbeda. Setelah berpuluh-puluh tahun penolakan total terhadap kemungkinan mencapai solusi politik dengan Palestina, beberapa suara muncul dari kalangan akademisi, petinggi militer, dan mantan politisi, yang mengangkat isu solusi dua negara sebagai jalan yang tak terelakkan untuk mencapai keamanan Israel dan memastikan bahwa serangan tidak akan terulang kembali tragedi 7 Oktober 2023 dan untuk menjamin keamanan warga pemukiman di sekitar Jalur Gaza dalam jangka panjang.
Visi mengenai apa yang diusulkan oleh Israel mungkin berbeda dari apa yang diusulkan oleh negara-negara Arab atau dunia internasional, namun usulan tersebut memiliki arti penting dan akan tumbuh dan mengkristal dalam jangka menengah setelah perang berakhir dan pertanyaan-pertanyaan internasional dan regional yang tak terelakkan terkait dengan masa depan.
Elemen politik Israel yang telah memeprlemah dan mengepung Otoritas Palestina selama beberapa tahun terakhir, dan berkontribusi terutama dalam mengkonsolidasi perpecahan antara Tepi Barat dan Jalur Gaza, akan mundur dan mendukung elemen politik Israel lainnya yang bersedia menerima Otoritas Palestina yang bersatu, yang memiliki legitimasi regional dan internasional dan mendapatkan dukungan dari banyak pihak, siap untuk memainkan peran ini, termasuk terlibat dalam proses politik dengan Israel dengan syarat bahwa Israel menjamin wilayah tersebut maka seluruh masalah Palestina dalam proses perdamaian akan mengarah pada pencapaian hak-hak rakyat Palestina serta Jaminan bagi keamanan dan eksistensi Israel.
Pada akhirnya pembatasan yang serius akan diberlakukan hingga terlepas dari keinginan Pemerintah Israel saat ini untuk memperluas jangkauan geografisnya ke luar Jalur Gaza Palestina. Pihak-pihak internasional, termasuk para pendukung Israel, sangat menyadari bahwa hal ini tidak lebih dari sebuah petualangan melarikan diri yang hanya akan memperpanjang krisis dalam bentuk apa pun, baik politik, keamanan, atau militer.