Baca Juga: Usai Viral ASN Live TikTok di Jam Kerja, Warganet Geruduk Akun Medsos Dispoparekraf Sulbar
Berbagai stimulus diluncurkan menjelang Hari Raya Idulfitri, mulai dari diskon tarif pesawat hingga pemberian Tunjangan Hari Raya (THR).
“Ini menunjukkan bahwa secara headline growth, ekonomi Indonesia masih mencerminkan ketahanan (resilience) yang cukup kuat berbasis permintaan domestik,” jelas Shinta.
Shinta berharap kebijakan pemerintah yang sudah berjalan baik tidak berhenti sampai di sini. Bagi dunia usaha, hal utama yang perlu diperhatikan adalah transmisi pertumbuhan tersebut ke aktivitas bisnis riil.
Di sisi lain, pemerintah dinilai perlu memperhatikan tekanan terhadap nilai tukar rupiah yang kini menyentuh sekitar Rp17.400 per dolar AS. Sebab, jika dibiarkan berlarut-larut, hal ini dapat berdampak buruk bagi dunia usaha.
Baca Juga: Nasib Oknum Polisi yang Viral karena Menyetir Sambil Merokok Kini Ditindak Propam
“Dalam konteks ini, dunia usaha menghadapi situasi yang disebut sebagai asymmetric impact of growth, di mana pertumbuhan tetap terjadi, tetapi manfaatnya belum terdistribusi secara merata, sementara tekanan biaya meningkat. Jadi, meskipun secara makro kita melihat angka pertumbuhan yang solid, di tingkat mikro banyak pelaku usaha masih berada dalam fase margin compression,” pungkasnya. *
Artikel Terkait
Kurangi Ketergantungan Dolar, Analis Dorong Penguatan Local Currency Settlement bagi Ekonomi RI
Vijay Prashad: 'Bandung Spirit' Bukan Sekadar Anti-Kolonialisme, Tapi Kemandirian Ekonomi
Menkeu Purbaya Yudhi Sadewa Sebut Fondasi Ekonomi RI Tetap Solid di Tengah Fluktuasi Rupiah
Proyek Revitalisasi SMPN 3 Jiken Serap Tenaga Kerja Lokal guna Perkuat Ekonomi Warga Desa Jiwarejo
Sri Wahyuni Apresiasi Program Sekolah Rakyat dalam Mendukung Pendidikan Anak dan Ekonomi Keluarga