Dalam kesempatan yang sama, Ketua Badan Anggaran DPR, Said Abdullah menyebut gaya koboi Purbaya justru bisa melonggarkan pengetatan pasar keuangan.
Said menyebutkan, keputusan Purbaya dalam menetapkan imbal hasil SBN tenor 10 tahun di kisaran 6,9 persen merupakan sinyal moderat yang memberi ruang gerak bagi ekonomi.
“Kita yakin gaya koboi Menteri Keuangan kita bisa melonggarkan kebijakan uang ketat,” kata Said.
Meski optimisme muncul, kritik tetap ada. Langkah-langkah cepat memang membawa dampak psikologis positif, tetapi belum tentu berkelanjutan.
Baca Juga: Kasus Pembobolan Rekening Dana Nasabah Jadi Tanggung Jawab Siapa?
Risiko inflasi, fluktuasi kurs, dan gejolak pasar global bisa sewaktu-waktu menguji ketahanan kebijakan fiskal era Menkeu Purbaya.
Hingga kini, target pertumbuhan 8 persen muncul ke permukaan sebagai ambisi besar pemerintah melalui kebijakan yang salah satunya berada di tangan Menkeu Purbaya.
Pemerintah juga berharap melalui target Sumitronomics itu mampu menjadi jawaban bagi RI untuk melompat dari negara berkembang menuju negara maju di masa mendatang.
Pada akhirnya, publik menanti gebrakan lanjutan dari Menkeu Purbaya untuk sanggup menjaga keseimbangan antara ambisi pertumbuhan dan stabilitas ekonomi di tengah badai gejolak pasar global. ***
Artikel Terkait
MBG Jadi Program Prioritas tapi Penyerapan Anggaran Kecil, Menkeu Purbaya Minta BGN Rutin Laporan ke Publik
Menkeu Purbaya Yakin Ekonomi RI Balik Arah di Oktober dan Pulih Akhir 2025
Janji Anyar Menkeu Purbaya usai Umumkan Program Stimulus Ekonomi RI, dari Rp7 T untuk Bantuan Pangan hingga Perang Bunga Bank Minim
Cowboy Style ala Menkeu Purbaya, Gaya Santai sang Menteri Baru RI yang Justru Jadi Taruhan di Awal Masa Jabatan
Soal Pencairan Dana Rp200 Triliun ke Bank, dari Wanti-wanti KPK soal Kredit Fiktif hingga Jawaban Tegas Menkeu Purbaya