Sejarah mencatat, perang Arab-Israel 1973 membuat harga minyak naik empat kali lipat. Akibatnya, dunia terpuruk dalam stagflasi. Tim ekonom Bloomberg menghitung, harga minyak dunia bisa terbang melampaul 150 USD perbarel jika perang Israel-Iran terjadi.
Baca Juga: Terjemahan Lirik Lagu GROWING PAIN, TXT, Ceritakan Sakit yang Dirasa karena Menghadapi Kenyataan
Akibat perang di Timteng itu, yang pertama-tama terguncang adalah angka inflasi. Dan AS adalah negara yang terdampak inflasi paling besar.
Celakanya, inflasi tinggi di Paman Sam akan makin meredupkan harapan The Federal Reserve (The Fed atau Bank Sentral AS), segera menurunkan suku bunga untuk memperkuat mata uang dunia, termasuk rupiah.
Jika inflasi naik, akibat melambungnya harga migas, The Fed akan makin tersudut. Akibat kondisi tersebut, Bank Sentral AS itu tak punya pilihan. Kecuali menaikkan suku bunga. Jika suku bunga tinggi The Fed bertahan lama, pasar keuangan global akan terguncang hebat.
Bunga tinggi di AS akan memicu kaburnya modal dari banyak negara demi mencari aman. Termasuk kabur dari Indonesia.
Sebelum meletus perang Israel-Hamas pun Indonesia sudah menghadapi masalah ini. Investor yang melihat suku bunga The Fed tak menunjukkan gelagat bakal turun, buru-buru memindahkan dana dalam jumlah besar ke luar negeri.
Sejak awal September hingga 11 Oktober lalu, misalnya, dana asing yang kabur dari pasar obligasi pemerintah sudah mencapai sekitar 2 miliar USD (Rp 30,64 triliun).
Akibatnya jumlah cadangan devisa pun turun. Agustus cadangan devisa 137,1 miliar USD, sedangkan September di tahun sama (2023), 134,9 miliar USD. Itulah sebabnya kurs rupiah merosot.
Dari gambaran tersebut, seharusnya Presiden dan Menkeu tidak melihat enteng penurunan nilai rupiah. Ini karena persoalannya sangat luas. Dan sangat mungkin makin buruk akibat dinamika politik global yang kacau. Plus makin panasnya musim kemarau akibat Elnino.
Baca Juga: Amanda Manopo Beberkan Sakit di Tubuhnya, Kejang sampai Mulut Berbusa
Saat ini, akibat musim kemarau ekstrim harga pangan makin meningkat. Kemarau ekstrim akibat Elnino ini diprediksi Badan Meteorologi dan Geofisika (BMKG) berlangsung sampai akhir tahun 2023.
Jelas, dampak Elnino mempersulit pertanian Indonesia saat ini. Harga beras, buah-buahan, dan sayuran di pasar melonjak. Dampak ikutannya, inflasi makin tinggi. Yang terakhir ini, tidak seperti dikatakan Bu Ani bahwa penurunan nilai rupiah semata-mata karena faktor luar. Tapi juga karena faktor dalam.
Ini artinya, untuk mengantisipasi kemarau ekstrim akan datang (tersebab Elnino yang niscaya akan berulang), pemerintah harus memperbaiki sektor pertanian. Demi mengurangi dampak inflasi global! Tanpa itu semua, dampak inflasi akan menjatuhkan ekonomi kmdan menyengsarakan rakyat secara serius.***
Artikel Terkait
Untungnya Pakai Kendaraan Listrik Busa Hemat Jutaan hingga Miliaran Rupiah
Presiden Jokowi Sumbang Sapi Kurban Terberat Di Sulbar, Seharga Ratusan Juta Rupiah
Israel Serang Rumah Sakit di Gaza Palestina, Kedubes Iran: Kejahatan Perang dan Genosida
Joe Biden Janjikan Bantuan Militer Tambahan Senilai 14 Miliar Dolar AS ke Israel: Ini adalah Investasi Cerdas
Syifa Hadju Demo Bela Palestina di Depan Gedung Kedubes AS dan PBB, Sosoknya Dibilang Mirip Bella Hadid
Indonesia Usulkan Solusi Terkait Konflik Israel dan Palestina di PBB, Retno Marsudi Sampaikan 4 Hal Ini