Opini: Fenomena di Balik Melemahnya Rupiah

photo author
Hanggi, Senayan Post
- Senin, 30 Oktober 2023 | 16:25 WIB
Wakil Ketua Komisi XI DPR RI Amir Uskara tentang Messi dan Argentina (ANTARA/HO)
Wakil Ketua Komisi XI DPR RI Amir Uskara tentang Messi dan Argentina (ANTARA/HO)

Sejarah mencatat, perang Arab-Israel 1973 membuat harga minyak naik empat kali lipat. Akibatnya, dunia terpuruk dalam stagflasi. Tim ekonom Bloomberg menghitung, harga minyak dunia bisa terbang melampaul 150 USD perbarel jika perang Israel-Iran terjadi.

Baca Juga: Terjemahan Lirik Lagu GROWING PAIN, TXT, Ceritakan Sakit yang Dirasa karena Menghadapi Kenyataan

Akibat perang di Timteng itu, yang pertama-tama terguncang adalah angka inflasi. Dan AS adalah negara yang terdampak inflasi paling besar.

Celakanya, inflasi tinggi di Paman Sam akan makin meredupkan harapan The Federal Reserve (The Fed atau Bank Sentral AS), segera menurunkan suku bunga untuk memperkuat mata uang dunia, termasuk rupiah.

Jika inflasi naik, akibat melambungnya harga migas, The Fed akan makin tersudut. Akibat kondisi tersebut, Bank Sentral AS itu tak punya pilihan. Kecuali menaikkan suku bunga. Jika suku bunga tinggi The Fed bertahan lama, pasar keuangan global akan terguncang hebat.

Bunga tinggi di AS akan memicu kaburnya modal dari banyak negara demi mencari aman. Termasuk kabur dari Indonesia.

Baca Juga: Rafathar dan Rayyanza beri Kado Spesial di Anniversary ke-9 Raffi Ahmad dan Nagita Slavina, Hadiahkan Apa?

Sebelum meletus perang Israel-Hamas pun Indonesia sudah menghadapi masalah ini. Investor yang melihat suku bunga The Fed tak menunjukkan gelagat bakal turun, buru-buru memindahkan dana dalam jumlah besar ke luar negeri.

Sejak awal September hingga 11 Oktober lalu, misalnya, dana asing yang kabur dari pasar obligasi pemerintah sudah mencapai sekitar 2 miliar USD (Rp 30,64 triliun).

Akibatnya jumlah cadangan devisa pun turun. Agustus cadangan devisa 137,1 miliar USD, sedangkan September di tahun sama (2023), 134,9 miliar USD. Itulah sebabnya kurs rupiah merosot.

Dari gambaran tersebut, seharusnya Presiden dan Menkeu tidak melihat enteng penurunan nilai rupiah. Ini karena persoalannya sangat luas. Dan sangat mungkin makin buruk akibat dinamika politik global yang kacau. Plus makin panasnya musim kemarau akibat Elnino.

Baca Juga: Amanda Manopo Beberkan Sakit di Tubuhnya, Kejang sampai Mulut Berbusa

Saat ini, akibat musim kemarau ekstrim harga pangan makin meningkat. Kemarau ekstrim akibat Elnino ini diprediksi Badan Meteorologi dan Geofisika (BMKG) berlangsung sampai akhir tahun 2023.

Jelas, dampak Elnino mempersulit pertanian Indonesia saat ini. Harga beras, buah-buahan, dan sayuran di pasar melonjak. Dampak ikutannya, inflasi makin tinggi. Yang terakhir ini, tidak seperti dikatakan Bu Ani bahwa penurunan nilai rupiah semata-mata karena faktor luar. Tapi juga karena faktor dalam.

Ini artinya, untuk mengantisipasi kemarau ekstrim akan datang (tersebab Elnino yang niscaya akan berulang), pemerintah harus memperbaiki sektor pertanian. Demi mengurangi dampak inflasi global! Tanpa itu semua, dampak inflasi akan menjatuhkan ekonomi kmdan menyengsarakan rakyat secara serius.***

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Hanggi

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X