Ekstremisme Tanpa Bom
Ekstremisme digital tidak selalu pakai senjata; cukup dengan mematikan rasa malu dan empati.
Di ruang virtual, orang bisa merasa berjihad cukup dengan menghina, mengkafirkan, dan menyebar potongan video setengah menit.
Dan setiap kali ada yang melawan dengan akal sehat, mereka tuduh 'liberal' atau 'agen Barat'.
Padahal justru dengan cara itu mereka jadi alat sempurna bagi siapa pun yang ingin membuat Islam tampak menakutkan.
Penutup: Nyalakan Akal, Redam Amarah
Banyak orang terseret bukan karena jahat, tapi karena tulus dan ingin mencari kebenaran.
Sayangnya, di dunia digital niat baik tanpa nalar sering jadi pintu kehancuran.
Islam tidak melarang berpikir, tapi melarang kebencian. Dan melawan propaganda tidak perlu senjata—cukup dengan akal sehat yang tidak mudah ditakut-takuti.
Kadang yang paling keras melawan konspirasi, justru yang paling patuh pada naskah konspirasi.***