Inilah jebakan klasik ekstremisme digital. Teori konspirasi dijadikan pintu masuk ideologis, bukan karena faktanya kuat, tapi karena membangkitkan rasa curiga dan heroisme palsu.
Begitu seseorang merasa 'paling tahu rahasia dunia', ia lebih mudah diarahkan pada ideologi yang menawarkan jawaban sederhana: "Semua ini karena musuh Islam".
Masalahnya, jawaban sederhana itu selalu butuh kambing hitam—dan targetnya jarang ke luar.
Yang pertama dituduh kafir justru Muslim lain yang berbeda pandangan.
Dari Kecurigaan ke Takfir
Setelah rasa curiga tumbuh, datang tahap berikutnya: pembenaran religius.
Ayat, hadits, dan nama ulama besar dikutip sebagian, diubah konteksnya, dan dipakai untuk meneguhkan kebencian.
Tiba-tiba muncul istilah 'thaghut', 'murtad', dan 'munafik' sebagai senjata, bukan sebagai peringatan moral.
Inilah titik di mana teori konspirasi berubah jadi alat takfir—menentukan siapa yang berhak hidup dan siapa yang dianggap musuh agama.
Kaset Bush dan Cheney dalam Versi Baru
Ironinya, narasi yang mereka sebar sebenarnya barang impor lama dari era Bush–Cheney, ketika dunia diperkenalkan pada 'War on Terror'.
Waktu itu, Washington butuh dunia Islam yang terpecah; dan kini, dua dekade kemudian, sebagian umat dengan sukarela meneruskan naskah itu di Telegram.
Mereka teriak 'anti-Barat', tapi kaset yang diputar masih sama. Sudah jadul, impor lagi.