SENAYANPOST - Beberapa tahun terakhir, ruang digital kita seperti pasar malam ideologi: penuh lampu warna-warni, ramai, tapi kalau dilihat lebih dekat, banyak yang jualan barang bekas.
Ada yang menawarkan 'pencerahan' lewat teori New World Order, simbol Illuminati, hingga kisah Dajjal di balik setiap produk teknologi. Awalnya menghibur, bahkan terasa ilmiah.
Tapi dari situ, banyak yang tanpa sadar sedang menyusuri jalan cepat menuju ekstremisme digital.
Dulu, propaganda disebar lewat pamflet. Sekarang lewat voice note Telegram dan video 30 detik.
Isinya sama: kecurigaan, ketakutan, dan keyakinan bahwa kitalah satu-satunya pihak yang benar.
Sebagai jurnalis, saya sering melihat pola itu berulang—dari satu grup ke grup lain, dari satu figur ke figur berikutnya.
Yang berubah hanya kemasannya, tapi nadanya tetap sama: "Musuh ada di mana-mana, dan yang tidak sepaham berarti lawan".
Ketika 'Kritis' Berubah Jadi Curiga
Banyak yang mengira dirinya tercerahkan karena tahu soal New World Order, Illuminati, Freemason, dan kawan-kawannya.
Padahal yang terjadi sering kali sebaliknya: rasa ingin tahu yang sehat berubah jadi paranoia massal.
Dari obrolan ringan tentang simbol di dolar dan film Hollywood, perlahan mereka diarahkan untuk percaya bahwa dunia ini dikendalikan oleh musuh Islam.
Lalu dimulailah fase berikutnya: siapa pun yang tidak sejalan dianggap musuh, bahkan sesama Muslim sendiri.
Teori Konspirasi sebagai Pintu Masuk