Ia juga menyoroti pentingnya menjaga jarak dari fanatisme politik.
"Kita sebagai intelektual harus jernih. Jangan terjebak dalam politik balas dendam atau glorifikasi. Demokrasi butuh kedewasaan, dan itu lahir dari kemampuan memahami konteks, bukan hanya teks," tambahnya.
Di akhir wawancara, Hendropriyono mengajak publik untuk menjadikan momen ini sebagai refleksi: apakah kita sudah cukup dewasa dalam memaknai hukum dan kekuasaan? Atau justru masih terjebak dalam logika konflik yang melelahkan?***