Ia juga menyoroti pentingnya menjaga jarak dari fanatisme politik.
"Kita sebagai intelektual harus jernih. Jangan terjebak dalam politik balas dendam atau glorifikasi. Demokrasi butuh kedewasaan, dan itu lahir dari kemampuan memahami konteks, bukan hanya teks," tambahnya.
Di akhir wawancara, Hendropriyono mengajak publik untuk menjadikan momen ini sebagai refleksi: apakah kita sudah cukup dewasa dalam memaknai hukum dan kekuasaan? Atau justru masih terjebak dalam logika konflik yang melelahkan?***
Artikel Terkait
Tom Lembong Resmi Ajukan Banding Soal Kasus Impor Gula, Kuasa Hukum: Tidak Ada Mens Rea
Tanggapan Kejagung soal Presiden Prabowo Beri Abolisi ke Tom Lembong di Skandal Korupsi Impor Gula
Momen Anies Baswedan Temui Tom Lembong di Rutan Cipinang usai Eks Mendag RI Itu Dapat Abolisi dari Prabowo
Amnesti Hasto dan Abolisi Tom Lembong, Fahri Hamzah: Prabowo Gunakan Hak Prerogatif Demi Kerukunan
Tom Lembong Laporkan Tiga Hakim yang Jatuhkan Vonis 4,5 Tahun ke MA