Catatan: Dr KH Abdul Ghofur Maimoen*
SENAYAN POST - Di Al Azhar Mesir, saya bertemu dengan sejumlah guru yang mengesankan.
Salah satunya adalah Syekh Prof. Dr. Musa Syahin Lasyin. Ia adalah guru besar di bidang Hadis.
Di antara karyanya yang populer adalah Fatḥ al Mun’īm fī Syarḥ Ṣaḥīḥ Muslim dan Al Manhal al Ḥadīṡ fī Syarḥ Aḥādīṡ al Bukhāriyy.
Penampilannya bersahaja, ramah, dan terbuka saat memberi kuliah.
Baca Juga: Arab Saudi Putuskan Idul Fitri Jumat Besok
Pagi itu adalah awal Ramadhan. Saya ke kampus dan masuk di ruang perkuliahannya.
Ia bertanya kepada santri-santrinya, kapan memulai puasa Ramadhan.
Tentu saja kami memulai puasa di hari itu. Tak ada tradisi berbeda memulai puasa di sini.
Semua seragam, sesuai dengan pengumuman Pemerintah Mesir.
Hal yang tak saya duga, tiba-tiba ia menyampaikan bahwa menurutnya puasa Ramadhan seharusnya dimulai kemaren sesuai perhitungan hisab.
Baca Juga: Selama Jadi Pelatih Persija Jakarta, Thomas Doll Ungkap Hal yang Menjengkelkan dan Menyenangkan
Ia tampak lebih menyetujui metode hisab ketimbang rukyah.
Akan tetapi, Pemerintah mengumumkan puasa hari ini, dan ia lebih memilih mengikutinya ketimbang mempertahankan pendapat pribadinya.[1]
Sikapnya ini ia sampaikan juga dalam karyanya, Fatḥ al Mun’īm fī Syarḥ Ṣaḥīḥ Muslim.