Solidkan Pemilih Santri, PKB Gelar Halaqah Pendidikan Politik Santri

photo author
Mushab Muuqoddas, Senayan Post
- Senin, 17 Juli 2023 | 10:43 WIB

Dalam masalah pendanaan politik, Gus Nur Hayyid menegaskan bahwa dana politik itu kita harus pahami sebagai sedekah. Karena sedekah, maka pasti berpahala. Para politisi tidak perlu risau dengan harta sedekah yang dikeluarkannya dalam perjuangan."

Sementara Bapak Aslam Ridho berpendapat, turots pesantren menyimpan term-term politik yang sangat berlimpah. Khazanah itu harus ditransformasikan oleh santri. Aslam Ridho mengatakan, "transformasi pemikiran santri mulai diarahkan untuk menciptakan rumusan-rumusan yang menyangkut urusan kebangsaan dan kenegaraan".

Ketika santri sudah matang dengan pemikiran kebangsaan dan kenegaraan yang mau diusung, menurut Aslam Ridho, "sudah ada amanat undang-undang partai politik yang mendorong pembangunan relasi antara politisi dan masyarakat, dalam hal ini santri." Partai politik akan jemput bola, menjaring aspirasi kaum santri.

Pemateri berikutnya, Dr. KH. Jazilul Fawaid, yang menggambarkan bahwa politik praktis bukanlah pasar sebagaimana dipahami secara negatif oleh masyarakat selama ini. Menurut Jazilul Fawaid, "politik adalah medan pertukaran gagasan."

Perlu diketahui, menurut Jazilul Fawaid, "nasionalisme itu lahir dari pesantren. Politik di pesantren dipahami sebagai bentuk amar ma'ruf nahi mungkar. Karena politik adalah amar ma'ruf nahi mungkar, maka politik adalah bagian dari agama. "Kemudian Jazilul Fawaid, menutup dengan mengisahkan politik praktis yang dilakukan oleh Walisongo. "Walisongo berdakwah kepada raja-raja, dan Walisongo juga menciptakan raja-raja (seperti Raden Fatah)," ujarnya.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Mushab Muuqoddas

Tags

Rekomendasi

Terkini

X