KA Cepat dan Percepatan Ekonomi Nasional

photo author
Yuda Alexander, Senayan Post
- Senin, 3 Juli 2023 | 13:58 WIB
Anggota DPR RI Dr. H. M Amir Uskara mengulas tentang Kereta Api Cepat Jakarta-Bandung (KCJB) yang belum lama ini menuai pro dan kontra. (Instagram.com/@keretacepat_id)
Anggota DPR RI Dr. H. M Amir Uskara mengulas tentang Kereta Api Cepat Jakarta-Bandung (KCJB) yang belum lama ini menuai pro dan kontra. (Instagram.com/@keretacepat_id)

Banyak pengamat ekonomi nyinyir atas pembengkakan itu. Padahal dalam pembangunan infrastruktur pembengkakan itu sering terjadi.

Baca Juga: Lebih Dari 35 Juta Pemilih di Pemilu 2024, KPU: Jawa Barat Posisi Pertama DPT Terbanyak

Karena banyak masalah yang harus dihadapi, seperti harga tanah yang naik, kesulitan teknis, dan harga sosial.

Di Amerika Serikat misalnya, saat membangun KA cepat tahun 2006 di Hawai terjadi pembengkakan, hampir 300 persen. Dari semula diperkirakan 4 miliar dolar, menjadi 11 miliar dolar.

Pembengkakan pembangunan KCJB hanya 23,5 persen sudah ribut. Kemudian pemerintah melalui APBN menalangi kekurangan itu. Ribut lagi.

Kenapa harus dari APBN? Padahal dengan talangan APBN itu, ada satu kepastian. Pemerintah tidak mau pembangunan KCJB mangkrak. Lagi pula pemerintah menambah saham kepemilikan di KCJB.

Baca Juga: Attack on Titan Final Season Part 3 Episode 2 Rilis Teaser Perdana, Begini Nasib Akhir Eren Yeager!

Pertanyaan berikutnya kenapa tidak jadi kerjasama dengan Jepang? Karena Jepang tak mau menularkan ilmu dan teknologinya kepada insinyur Indonesia.

Tiongkok mau kerjasama, baik dari segi ilmu, teknologi, maupun industrinya. Jadi Indonesia lebih diuntungkan bila kerjasama dengan Tiongkok.

Pengamatan terakhir menunjukkan, teknologi kereta cepat Tiongkok saat ini sudah setara, bahkan lebih maju dari Jepang.

Jepang sekarang hanya memiliki jaringan KA cepat sepanjang 3.000 km. Sementara itu, Tiongkok sudah punya 37.000 km.

Baca Juga: Arab Saudi Deportasi 6.274 Imigran Gelap

Faisal Basri, pengamat ekonomi UI, nyinyir, sampai kiamat pun, modal pembangunan KCJB tak akan kembali. Faisal melihat proyek KCJB seperti bisnis nasi kucing angkringan pinggir jalan.

Padahal KCJB adalah proyek strategis nasional, dengan kategori pembangunan infrastruktur unggulan. Karena itu, keuntungan ekonominya tidak bisa dilihat day per day atau year per year, tapi jangka panjang.

Dengan adanya infrastruktur KCJB, maka ada percepatan pengembangan ekonomi yang luar biasa. Bukan hanya di sekitar stasiun KCJB, di mana akan tumbuh pusat-pusat ekonomi baru, tapi juga citra Indonesia di dunia internasional akan terkerek.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Yuda Alexander

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X