Generasi milenial atau generasi Y yang lahir antara tahun 1982-1996 dan generasi setelah itu (Z dan seterusnya), pola hidupnya berbeda sekali dengan generasi jadul yang masih tergantung pada paper book.
Baca Juga: Ini Harga Termurah Suzuki XL7 Hybrid yang Secara Resmi Meluncur di Indonesia
Pada masa generasi milenial dan Z tak lagi membutuhkan itu. Mereka hidup dalam dunia maya yang serba digital, E-book (buku elektronik atau buku digital) dengan segala bentuknya yang amat beragam, kini mendominasi pasar.
Tidak seperti paper book yang desain buku dan pola untuk membacanya hampir sama, kuno. Tdak demikian dengan e-book yang berbasis digital.
Di era digital, apa yang disebut buku, definisinya bisa sangat beragam. Buku ilmiah dan fiksi misalnya, bisa saja didesain dalam bentuk games dan cerita bergambar yang hidup.
Bacaan berkualitas dan rumit, misalnya, secara digital bisa dibuat dengan gambar yang hidup, sederhana, dan menghibur. Ini semua dilakukan untuk menarik publik agar membeli "buku", dan ternyata berhasil.
Baca Juga: Beli Vespa di Jakarta Fair Kemayoran dapat Diskon yang Menggiurkan
Dengan demikian, tutupnya toko-toko buku di atas, bukan berarti generasi milenial dan Z tidak suka membaca buku.
Tapi hal itu terjadi karena "toko buku dan buku" yang berpola jadul tengah tergerus perubahan zaman. Untuk mengatasi bangkrutnya toko buku dan ditinggalkannya paper book, maka pihak-pihak terkait, mulai dari penerbit, toko buku, dan marketing mau tidak mau harus mengikuti trend yang berkembang pada generasi digital, yaitu generasi yang hidupnya sudah tak terpisahkan dengan dunia digital yang instan, menghibur, dan menyegarkan.
Dengan demikian, tutupnya toko buku Gunung Agung, Kinokuniya, Toga Mas, dan Book and Beyond, menurut Dr. Rhenald Kasali, tidak menunjukkan matinya ekonomi buku dan hilangnya minat baca.
Tapi lebih disebabkan "mereka" kurang antisipatif terhadap perkembangan zaman, khususnya zaman digital dan internet yang demikian pesat.
Baca Juga: Maskapai Penerbangan Lion Air Beberkan Alasan Sering Terlambat atau Delay
Ini terbukti, dari ramainya pengunjung pada pameran-pameran buku internasional seperti di Frankfurt, London, dan New York.
Karena di pameran tersebut, publik ingin mengetahui bagaimana perkembangan teknologi digital perbukuan, mereka pun haus bacaan berkualitas tanpa harus mengerutkan kening seperti membaca di paper book model jadul.
Kenapa "buku" dengan segala bentuk transformasinya masih tetap dibutuhkan masyarakat? Karena dunia tanpa buku, kata penulis Jerry Seinfeld, adalah dunia nirperadaban. Satu-satunya bukti fisik yang menunjukkan manusia masih berpikir dan berperadaban, tambah Seinfeld, adalah buku.
Artikel Terkait
7 Rekomendasi Buku Pengembangan Diri, Ada Atomic Habits hingga The Power of Now Karya Eckhart Tolle
Review Buku The Alchemist Karya Paulo Coelho
Link Baca Manga One Piece Chapter 1077 Rilis Malam Ini, Kru Topi Jerami Terjebak di Pulau Egghead?
Link Baca Komik One Piece Chapter 1080 Bahasa Indonesia Gratis dan Legal
Sinopsis Buku 'The Deer and the Dragon: Southeast Asia and China in the 21st Century' Karya Donald K Emmerson
Sinopsis Buku 'Why Nations Fail: The Origins of Power, Prosperity, and Poverty' Karya Daron Acemoglu