Buntutnya dia diberi teguran tertulis oleh Majelis Kehormatan MK. DPR pun diam seribu bahasa menyaksikan rendahnya integritas sang jagoannya itu.
Sejumlah anggota DPR diduga ikut mengintervensi dalam rekrutmen hakim agung di Komisi Yudisial. Misalnya, ada di antara anggota DPR ikut mengantar calon hakim agung yang mendaftar sebagai peserta seleksi ke Komisi Yudisial.
Sejumlah anggota DPR yang dihukum karena terlibat percaloan anggaran. Pada DPR periode 2014-2019 Ketua DPR Setya Novanto pun dihukum karena terlibat kasus E-KTP bernilai triliunan rupiah.
Dalam kasus lain, saat melakukan pembahasan rancangan undang-undang mereka sering mengabaikan peran serta masyarakat yang sesungguhnya menjadi syarat formil sahnya undang-undang.
Baca Juga: Mahfud MD Sebut Ada Transaksi Mencurigakan Rp300 Triliun, Begini Tanggapan Kemenkeu
Belum lagi dengan perilaku hedonis sejumlah anggota Dewan selama ini. Jika kita sempat melongok parkiran di DPR, akan melihat deretan mobil-mobil mewah yang jauh dari cerminan kesederhanaan yang semestinya ditunjukkan wakil rakyat.
Masih banyak lagi perilaku anggota DPR lainnya yang belum mencerminkan sikap negarawan. Rakyat yang diwakili DPR tidak dapat berbuat banyak untuk mengembalikan marwah DPR sebagai wakil rakyat yang ideal.
Berbagai kritik yang disampaikan selalu mental di tembok tebal gedung DPR di Senayan itu. Sebagian besar anggota DPR kita masih berperilaku "over acting", terus merasa di atas angin.
Mereka tidak paham posisi dalam mengemban tugas kenegaraannya. Perilaku over itu repotnya berlangsung "turun temurun" dari satu periode ke periode berikutnya. Bahkan semakin ke sini kondisinya menjadi semakin parah.
Sebentar lagi kita menghadapi Pemilu 2024. Rakyat akan kembali memilih wakil-wakilnya, termasuk anggota DPRRI. Apakah kenyataan wajah DPR seperti diuraikan di atas menjadi referensi penting bagi rakyat dalam memilih, atau semuanya itu dibiarkan berlalu begitu saja? Semuanya kita serahkan kepada para pemilih kita yang begitu mudah lupa itu.***