Identitas Yes, Politisasi Identitas No

photo author
Mushab Muuqoddas, Senayan Post
- Jumat, 24 Maret 2023 | 14:01 WIB
Kerusuhan di Tahrir Square Cairo Mesir
Kerusuhan di Tahrir Square Cairo Mesir

 

 

Mush’ab Muqoddas Eka Purnomo, Lc

 

Paras warga Makau, lebih cantik dan tampan daripada kota-kota China lainnya. Makau lepas dari Portugis dan diserahkan kepada China pada tahun 1999. Sejak kedatangan Portugis pada abad ke-17 di Makau, terjadi pernikahan campuran, bersamaan dengan kolonialisme.

Kecantikan tersebut dapat dilihat dari indahnya mata dan alis warga Makau, serta hidung yang lebih mancung. Sedangkan kulit mereka tetap kuning seperti warga China lainnya. Identitas mereka tetap adalah Bangsa China.

Pernikahan campuran ini juga dapat kita lihat di Mesir. Wajah penduduk Mesir sangat beragam. Ada yang Arab, Nubia, Yunani, Prancis dan Semit.

Pernikahan campuran juga sering kita jumpai di Indonesia. Pernikahan berbeda suku antara suami dan istri sering kita jumpai. Identitas anak-anak mereka adalah ganda, seperti Jawa-Banjar, Bugis-Melayu, Sunda-Batak, dan sebagainya. Tetapi kebangsaan mereka adalah Indonesia.

Benar penafsiran mendiang Grand Syaikh Al Azhar Prof. Muhammad Sayid Tantawi ayat ke-13 surah Al Hujuraat. Manusia diciptakan dengan identitas laki-laki dan perempuan, serta kemudian bersuku dan berbangsa, tidak hanya untuk saling mengenal akan tetapi untuk saling berbuat baik.

Kolonialisme Portugis di Makau dan Inggris di Hong Kong, hampir saja mengubah identitas warga kedua kota tersebut. Pemerintah China yang sejak tahun 1997 dan 1999 mengendalikan Hong Kong dan Makau, berusaha keras untuk memperkuat identitas warganya sebagai Bangsa China.

Sementara itu, sebagai jaminan, Pemerintah China tidak mengubah wajah kapitalisme Hong Kong dan Makau, bahkan memanfaatkan keduanya untuk membantu perekonomian China, serta mendukung misi politik luar negeri China, salah satunya adalah Belt Road Initiative (BRI). Pengusaha dan pejabat dari berbagai negara lebih merasa nyaman berada di Hong Kong dan Makau, untuk melakukan transaksi ekspor-impor dan investasi.

Kita akan menjumpai banyaknya aksara latin dalam Bahasa Inggris di Hong Kong dan Bahasa Portugis di Makau. Tidak hanya di fasilitas umum, bahkan keimigrasian masih menggunakan Bahasa Inggris dan Bahasa Portugis, dengan Aksara Latin.

Percampuran kebudayaan jangan sampai menghapus identiras asli warga setempat. Salah satu tanda identitas suatu bangsa adalah aksaranya. Penyampaian Guru Besar Emeritus Universitas Pertahanan RI Prof. AM Hendropriyono dalam forum BPIP pada pertengahan Maret 2023 lalu untuk menggagas Aksara Indonesia, merupakan gagasan penting untuk memperkuat jatidiri kebangsaan yang berkepribadian.

Sejarah Indonesia mengenal keragaman kebudayaan Bangsa Indonesia dari berbagai suku-bangsa yang setiapnya memiliki bahasa dan aksara tersendiri. Aksara-aksara dapat dikaji dan diramu untuk kemudian disusun Aksara Indonesia.

Aksara tidak hanya sekedar tulisan dan jatidiri akan tetapi juga bagian dari strategi pertahanan. Nantinya, kode-kode pertahanan di alutsista kita tidak akan menggunakan aksara latin alfabet, akan tetapi Aksara Indonesia yang akan kita gagas.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Mushab Muuqoddas

Tags

Rekomendasi

Terkini

X