Opini: Istana Ganti Komando Komunikasi: Pemerintah Lawan Algoritma, Tidak Bisa Hanya Andalkan Segelintir Media Besar!

photo author
Hanggi Martyas Laksono, Senayan Post
- Selasa, 28 April 2026 | 21:52 WIB
Agus Sulistriyono - CEO Promedia Group (Dok. Promedia)
Agus Sulistriyono - CEO Promedia Group (Dok. Promedia)

Oleh: Agus Sulistriyono - CEO Promedia Group

SENAYANPOST - Setiap kali komando komunikasi di Istana berubah, publik seperti diajak percaya bahwa masalahnya ada pada orangnya.

Seolah-olah cukup ganti kepala, ganti juru bicara, ganti wajah, lalu semuanya akan membaik. Padahal kenyataannya jauh lebih pahit: yang bermasalah bukan siapa yang bicara, tapi bagaimana negara ini berbicara.

Hari ini diganti lagi. Kemarin juga begitu. Dan mungkin besok akan terulang. Tapi satu hal tidak pernah berubah: komunikasi pemerintah selalu datang terlambat, kaku, dan terasa seperti berbicara dari menara gading.

Sementara di luar sana, opini publik sudah dibentuk lebih dulu cepat, emosional, dan viral.

Baca Juga: Teken MoU dengan ICCN, Promedia Group Bangun Kemandirian Para Pelaku Ekonomi Kreatif yang Lebih Luas di Tanah Air

Masalahnya sederhana tapi sering diabaikan, pemerintah masih merasa sedang berhadapan dengan oposisi politik.

Padahal di era sekarang, lawan utamanya bukan lagi manusia, melainkan algoritma.

Algoritma tidak peduli jabatan. Tidak peduli struktur birokrasi. Ia hanya bekerja berdasarkan satu hal: perhatian.

Siapa yang paling cepat menarik perhatian, dia yang menang. Siapa yang paling relevan dengan emosi publik, dia yang didengar. Dan di medan ini, negara sering kali kalah telak.

Ketika sebuah isu muncul, publik tidak menunggu klarifikasi resmi. Mereka sudah lebih dulu melihat versi lain- potongan video, narasi pendek, headline provokatif - yang menyebar dalam hitungan menit.

Sementara pemerintah masih sibuk menyusun rilis, menunggu persetujuan, atau memilih diksi yang terlalu aman. Hasilnya? Narasi sudah kalah sebelum pemerintah sempat berbicara.

Inilah akar persoalannya: negara masih bermain di logika komunikasi lama- rapi, formal, satu arah - di saat publik sudah hidup dalam ekosistem baru yang cepat, cair, dan berbasis algoritma.

Mengganti orang tanpa mengubah sistem hanya akan menghasilkan pola yang sama. Hari ini ganti kepala, besok ganti strategi sesaat, lalu kembali lagi ke kebiasaan lama.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Hanggi Martyas Laksono

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X