"Pendapat saya, terjadinya perang itu bisa iya, bisa tidak. Trump dan Khamenei tidak akan gegabah memerintahkan tentaranya berperang. Terlalu tinggi risiko dan harga yang harus mereka bayar kalau keputusannya salah," kata SBY.
Ia menekankan bahwa keputusan perang harus mempertimbangkan apakah konflik tersebut benar-benar diperlukan atau masih ada opsi lain.
Dalam kajian strategi militer, hal ini dikenal sebagai perbedaan antara war of necessity dan war of choice.
Baca Juga: AS Isyaratkan Jalur Diplomatik, Iran Sebut Siap Terbuka untuk Kesepakatan yang Adil
SBY juga mengingatkan bahwa perang besar tidak hanya sulit dimenangkan, tetapi juga sulit diakhiri. Ia mencontohkan pengalaman Amerika Serikat di Vietnam, Irak, dan Afghanistan.
"Jangan-jangan bagi Amerika menang perangnya sulit dicapai, kemudian exit atau mengakhiri peperangan juga tidak mudah. Ingat kembali pengalaman pahit di Vietnam, Irak dan Afghanistan. Iran adalah Iran. Iran bukan Irak dan bukan Afghanistan," tegasnya.
Dalam pesannya, SBY juga menyoroti aspek kemanusiaan dalam keputusan perang.
Ia mengingatkan bahwa prajurit yang dikirim ke medan tempur adalah manusia yang memiliki keyakinan dan harapan.
"Prajurit tidak bertempur dan siap untuk mati, kecuali mereka tahu untuk apa mereka bertempur dan mati," ujarnya, mengutip prinsip yang menurutnya harus diingat para pemimpin politik dunia.
Baca Juga: Di Tengah Pidato Kenegaraan, Presiden AS Donald Trump Kembali Ultimatum Iran
SBY menegaskan bahwa keputusan memulai perang harus didasarkan pada tujuan yang jelas, perhitungan rasional, serta tanggung jawab moral terhadap rakyat dan stabilitas dunia.***
Artikel Terkait
Pengamat: AS Salah Baca Iran, Tekanan Justru Perkuat Rezim Ali Khamenei
Di Tengah Pidato Kenegaraan, Presiden AS Donald Trump Kembali Ultimatum Iran
AS Isyaratkan Jalur Diplomatik, Iran Sebut Siap Terbuka untuk Kesepakatan yang Adil
Iran Tolak Akhiri Pengayaan Uranium, Sebut Batasi Kemampuan Rudal di Bawah 2.000 km
Wapres JD Vance Sebut Potensi Serangan AS ke Iran Tidak akan Sebabkan Konflik Regional, Washington Pilih Jalan Diplomasi