Ia pernah menyebut bahwa orang yang dianggap 'ahli maksiat' justru sering memandang orang saleh dengan penuh harap, sementara orang yang merasa saleh kadang melihat mereka dengan stigma.
Karena itu, menurutnya, dakwah seharusnya hadir dengan empati, bukan penghakiman.
Momentum buka puasa bersama pekerja 1001 Hotel dan Colosseum ini seolah menandai kembalinya Gus Miftah ke pola dakwah yang dulu membesarkan namanya — mendatangi mereka yang jarang disentuh.
Soal Ujian dan Kritik
Dalam sesi tanya jawab, Gus Miftah juga menyinggung masa-masa ketika dirinya dihujani kritik.
Ia mengutip hadis bahwa jika Allah mencintai seorang hamba, maka Dia akan mengujinya.
"Manusia punya kendala, Allah punya kendali," katanya.
Menurutnya, ujian justru membuatnya lebih banyak membantu orang lain. Ia mengaku, setelah melalui masa sulit, jumlah orang yang bisa ia berangkatkan umrah justru bertambah.
Dakwah Tanpa Batas Tempat
Kehadiran Gus Miftah di klub malam selalu memantik pro-kontra.
Ada yang menilai langkah tersebut progresif, ada pula yang menganggapnya kontroversial.
Namun bagi Gus Miftah, dakwah tidak mengenal batas tempat.
"Kalau yang di masjid sudah rajin, lalu siapa yang datang ke tempat-tempat seperti ini?" demikian pesan yang kerap ia sampaikan.
Buka puasa bersama di Colosseum Jakarta kali ini menjadi simbol bahwa ruang hiburan malam pun bisa menjadi ruang refleksi spiritual — setidaknya untuk satu malam.***
Artikel Terkait
Reaksi Presiden Prabowo dan Partai Gerindra Setelah Mendengar Kasus Gus Miftah
Menyelami Kasus Ejekan Gus Miftah ke Penjual Es Teh, Boy Candra Catut Kata Maaf yang Sebenarnya Tak Benar-benar Hilangkan Luka
Gegara Olok-olok Penjual Es Teh, Gus Miftah Mengundurkan Diri dari Kabinet Prabowo
Gus Miftah Ditegur Istana Soal Ejek Penjual Es Teh, Boy Candra: Kata Maaf Tak Benar-Benar Hilangkan Luka
Sudah Pisah, Deddy Corbuzier Rayakan Ulang Tahun Sabrina Chairunnisa dengan Kue Unik