Kisah Pilu Ali: Bertahan di Tengah Banjir Tamiang hingga Kehilangan Orang Tua

photo author
Ragil Firdaus, Senayan Post
- Selasa, 13 Januari 2026 | 14:44 WIB
Cerita warga Aceh Tamiang saat banjir mulai masuk ke area pemukiman pada akhir November 2025. (Instagram/chefharipurwanto)
Cerita warga Aceh Tamiang saat banjir mulai masuk ke area pemukiman pada akhir November 2025. (Instagram/chefharipurwanto)

“Malamnya, di situ ada orang mau melahirkan, adiknya ayah. Di situ ada dokternya, langsung dilahirkan (di tempat itu) anaknya. Setelah selesai, langsung pindah lagi, itu jam 3 malam melahirkannya,” terangnya.

Baca Juga: Jalan Darat Putus Akibat Banjir, Anak-Anak di Aceh Tengah Rela Lewat Jembatan Rusak hingga Turun ke Sungai Demi ke Sekolah

Berharap Bantuan Rumah dan Air Bersih

Dalam kesempatan tersebut, Ali juga mengungkapkan harapannya untuk mendapatkan bantuan rumah dan air bersih bagi penyintas.

“Yang diharapkan, mudah-mudahan ada rumah. Kalau untuk saya sendiri masih ada rumah, untuk warga-warga. Rumah dan air bersih saja udah berterima kasih, udah nggak layak,” sambungnya.

Ia juga membagikan kabar duka bahwa beberapa saat lalu, orang tuanya baru saja meninggal dunia dan mengatakan telah ikhlas menerima takdirnya.

“Yang paling sedih buat saya, 4 hari lalu, orang tua saya meninggal. Tapi mau bagaimana lagi, setiap yang bernyawa akan pasti mati,” tuturnya.

Semenatara itu, Aceh merupakan satu dari 4 kabupaten di Provinsi Aceh yang memperpanjang masa tanggap darurat bencana hingga Kamis, (22/1/26). Adapun kabupaten lain di Aceh yang memperpanjang status tanggap darurat adalah Aceh Tengah, Gayo Lues, dan Pidie Jaya. ***

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Ragil Firdaus

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X