Kesaksian Anak Aceh Tamiang: Banjir Datang Cepat Seperti Tsunami Sungai

photo author
Ragil Firdaus, Senayan Post
- Minggu, 11 Januari 2026 | 14:07 WIB
Seorang anak di Aceh Tamiang ceritakan detik-detik banjir menghantam rumahnya.  (Instagram/jendral_koki)
Seorang anak di Aceh Tamiang ceritakan detik-detik banjir menghantam rumahnya. (Instagram/jendral_koki)

SENAYANPOST - Bencana hidrometeorologi yang menghantam 3 provinsi Sumatera, yakni Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat pada akhir November 2025 lalu menyisakan duka yang mendalam.

Banjir bandang disertai tanah longsor itu membuat dari seribu orang meninggal dunia dan merusak rumah warga, membuat mereka harus mengungsi di posko maupun di rumah sanak saudara. Meski sudah lebih dari sebulan pascabanjir, momen mencekam ketika air dengan arus deras dan beberapa daerah bahkan disertai gelondongan kayu masih terus diingat warga.

Salah satunya saat seorang anak di Aceh Tamiang menceritakan detik-detik banjir datang dan menerjang rumahnya. Seorang influencer sekaligus relawan yang ikut memasak bersama King Abdi di Aceh Tamiang membagikan video salah satu anak saat menceritakan kejadian banjir.

Anak tersebut mengatakan bahwa awalnya memang sudah terjadi banjir akibat intensitas hujan yang tinggi. Namun, air tak kunjung surut karena hujan pun tak kunjung reda hingga keesokan harinya.

Baca Juga: Aceh Belum Pulih, Ratusan Titik Longsor Masih Hantui Takengon

“Awalnya di dekat kampung kami sana tuh cuma banjir (karena) hujan aja, langsung habis, langsung surut. Tapi ini nggak surut-surut karena hujan itu,” ucapnya dalam video yang diunggah di akun Instagram @jendral_koki pada Minggu, (11/1/26).

“Habis itu, malam ada longsor. Tiba-tiba mati lampu, terus ada pohon besar tumbang. Di malam itu hujannya udah tenang tapi masih deras,” lanjutnya.

Banjir yang tak kunjung surut dan hujan yang terus turun membuat debit air meningkat. Ia bahkan menyebut air masuk ke perkampungan karena di daerah lain sudah tinggi hingga ke atap rumah.

“Besoknya, hujan jam 09.00 WIB langsung di sini air semua seatap rumah. Awalnya kampung kami nggak kena banjir, jadi kena banjir,” terangnya.

Menurut catatan Badan Penanggulangan Bencana Nasional (BNPB), per 9 Januari 2026, total korban meninggal dunia di 3 provinsi ada sebanyak 1.182 orang dan 145 orang lainnya masih dinyatakan hilang.

Lebih lanjut, untuk warga yang masih mengungsi ada sebanyak 238.627 jiwa dan kerusakan rumah mencapai 189.308 unit.

Aceh Tamiang sendiri satu dari 4 kabupaten di Provinsi Aceh yang memperpanjang masa tanggap darurat bencana hingga (22/1/26). Adapun kabupaten lain di Aceh yang memperpanjang status tanggap darurat adalah Aceh Tengah, Gayo Lues, dan Pidie Jaya. ***

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Ragil Firdaus

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X