Di sisi lain, Anies juga menyoroti soal melemahnya diplomasi multilateral melalui PBB atau OAS.
"Kelemahan diplomasi multilateral, seperti melalui PBB atau OAS, semakin terlihat jelas, membuat pendekatan lunak seperti ASEAN Way kurang efektif dalam menghadapi konfrontasi langsung," jelasnya.
Insiden ini juga menandai bahwa saat ini dunia membutuhkan diplomasi yang lebih pro aktif.
"Sudah saatnya kita mengembangkan diplomasi yang lebih proaktif, termasuk jaringan dengan aktor non-negara untuk mediasi yang efektif, daripada netralitas pasif yang membuat kita rentan sebagai korban sampingan," tulisnya.
Anies menilai Indonesia punya kesempatan untuk memimpin inisiatif di PBB untuk memperkuat suara negara-negara Selatan terkait pengelolaan sumber dayanya.
"Serangan ini juga dapat berfungsi sebagai katalis untuk mereformasi tata kelola global dari perspektif Selatan. Indonesia memiliki kesempatan untuk memimpin inisiatif di PBB untuk memperkuat suara negara-negara berkembang, khususnya mengenai sumber daya strategis," jelasnya.
Mantan Gubernur DKI Jakarta ini juga menilai tidak hanya soal respons moral tapi ini adalah bagaimana Indonesia bisa bertahan di tengah dunia yang semakin terpecah-belah.
"Ini bukan sekadar respons moral, tetapi strategi bertahan hidup di dunia yang terfragmentasi, menekankan kepemimpinan yang membangun jembatan daripada menyerah pada kekuatan yang destruktif," tutupnya.***
Artikel Terkait
Wali Kota New York Zohran Mamdani Kecam Penangkapan Presiden Venezuela Nicolas Maduro dan Istri
Oposisi Israel Ingatkan Iran Usai Presiden Venezuela Nicolas Maduro Ditangkap AS
Dino Patti Djalal soal Penculikan dan Penangkapan Presiden Venezuela Nicolas Maduro: Kita Masuki Tatanan Dunia yang Berbahaya
Kronologi Operasi Absolute Resolve, Rencana AS Tangkap Presiden Venezuela Nicolas Maduro
Peran Intelijen AS dalam Penangkapan Presiden Venezuela Nicolas Maduro, Ternyata Sudah Direncanakan Berbulan-bulan Lalu