Kisah Ibu di Desa Mardame: Tidur di Hutan dan Beri Anak Makan Ubi Mentah demi Bertahan dari Longsor

photo author
Ragil Firdaus, Senayan Post
- Selasa, 23 Desember 2025 | 09:34 WIB
Tangkapan layar seorang warga Tapanuli Tengah yang mengenang bagaimana banjir dan longsor menerjang rumahnya dan memaksa mereka tidur di hutan. (TikTok/zaits_bf)
Tangkapan layar seorang warga Tapanuli Tengah yang mengenang bagaimana banjir dan longsor menerjang rumahnya dan memaksa mereka tidur di hutan. (TikTok/zaits_bf)

SENAYANPOST - Bayang-bayang malam mencekam masih terekam jelas di ingatan seorang ibu warga Desa Mardame, Kecamatan Sitahuis, Tapanuli Tengah.

Saat longsor dan banjir bandang meluluhlantakkan tempat tinggalnya, ia dan keluarganya harus menjalani perjuangan hidup yang luar biasa. Sebab bencana yang memutus segala akses kehidupannya.

Kisah perjuangan bertahan hidup yang menyayat hati ini dibagikan oleh akun TikTok @zaits_bf pada Senin, (22/12/25).

Dalam narasi yang penuh kegetiran, wanita tersebut menceritakan bagaimana ia harus berupaya menyelamatkan keluarganya tanpa bekal apa pun yang tersisa.

Baca Juga: Momen Haru Pertemuan Ibu dan Anak di Penjara: Mau Ketemu Mama

Ketika rumah hancur dan api tak bisa menyala karena guyuran hujan yang tak henti, warga ini terpaksa melakukan apa saja demi mengganjal perut yang lapar dan tenggorokan yang haus.

Tidak ada air bersih maupun makanan hangat di tengah kondisi darurat tersebut.

"Air hujan diminum, ada ubi tapi tak dimasak, semua hujan jadi enggak ada api," ucap wanita tersebut.

Akses jalan yang tertutup longsor di berbagai titik membuat mereka tidak memiliki pilihan selain berlindung di balik rimbunnya hutan.

Baca Juga: Menlu Abbas Araghchi Sebut Siap Negosiasi Kesepakatan Nuklir Iran, Sebutkan Dua Syarat Ini

Mereka terjebak, tidak bisa menuju ke tempat pengungsian karena jalur evakuasi yang lumpuh total.

"Di sini longsor, di sana longsor, jadi enggak ada jalan, jadi kami satu malam tidur di hutan," lanjutnya menceritakan situasi mencekam saat itu.

Puncak kepedihan sang ibu adalah saat harus melihat anak-anaknya terpapar udara dingin tanpa pelindung yang memadai.

Seluruh pakaian mereka basah kuyup dan tidak ada satu pun baju kering yang tersisa setelah rumah mereka tersapu bencana.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Ragil Firdaus

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X