Di tengah keterbatasan fasilitas pengungsian, ingatan mereka masih tertuju pada rumah yang hilang, meninggalkan tanda tanya besar tentang di mana mereka akan bernaung setelah masa tanggap darurat berakhir.
Kisah ini menjadi pengingat bagi kita semua bahwa anak-anak adalah kelompok yang paling rentan kehilangan rasa aman saat bencana melanda, kehilangan dunianya yang selama ini mereka kenal sebagai rumah.***
Artikel Terkait
Influencer Vilmei Kisahkan Warga di Aceh Tamiang yang Tak Menyerah Meski Wilayahnya Hancur Diterjang Banjir Bandang
Komentar Ferry Irwandi soal Bencana Banjir Bandang dan Longsor di Sumatera Usai Salurkan Donasi Rp10 Miliar
Kilau di Balik Duka: Warga Aceh Temukan Diduga Butiran Emas di Sisa Lumpur Banjir
Minta Sajadah ke Relawan, Bocah Pengungsi Aceh Ini Curhat Miliknya Hanyut saat Banjir Bandang Sumatera
Berenang Selamatkan Puluhan Korban Banjir di Aceh Tamiang, Sertu Giman: Saya Hampir Pingsan, Tapi Allah Beri Kekuatan