Fenomena Lipstick Effect, Daya Beli Lesu tapi Banyak Warga yang Liburan

photo author
Hanggi, Senayan Post
- Kamis, 30 Januari 2025 | 18:41 WIB
Fenomena Lipstick Effect, Daya Beli Lesu tapi Banyak Warga yang Liburan
Fenomena Lipstick Effect, Daya Beli Lesu tapi Banyak Warga yang Liburan

SENAYANPOST - Masa liburan Tahun Baru Imlek dan Isra Miraj membuat kepadatan lalu lintas di Tol Jakarta-Cikampek, bahkan petugas melakukan rekayasa lalu lintas contraflow satu lajur dari KM 55 sampai KM 47 di ruas Tol Jakarta-Cikampek.

Terkait kepadatan lalu lintas dalam suasana libur panjang ini, Pakar Bisnis, Profesor Rhenald Kasali menilai masyarakat kini mencari hiburan yang terjangkau dalam rangka mendapatkan kebahagiaan.

Rhenald menyoroti masa liburan panjang Imlek dan Isra Miraj 2025 ini membuat tempat-tempat hiburan dipenuhi pengunjung hingga menyebabkan kemacetan.

"Libur panjang, jalanan macet kembali, dan hari libur tahun ini diperkirakan lebih dari 100 hari dalam setahun, banyak libur ditambah sabtu minggu," ujar Rhenald melalui akun Instagram pribadinya.

Baca Juga: Ada Libur Tahun Baru Imlek, Ini Jadwal Tayang Baru Drakor Love Scout Episode 9

Dari sisi yang lain, pakar bisnis itu juga menyoroti kondisi ekonomi Indonesia yang saat ini diwarnai penurunan daya beli hingga pemutusan hubungan kerja alias PHK.

"Kenapa jalan tetap ramai? Padahal, banyak yang mengatakan daya beli turun, jumlah kelas menengah berkurang, pengangguran banyak, orang kena PHK banyak," tutur Rhenald.

Rhenald menyebut, umumnya masyarakat mencari kemewahan untuk mendapatkan kebahagiaan dengan cara yang terjangkau, yakni melakukan aktivitas liburan.

"Masyarakat selalu mencari kemewahan bagi dirinya, untuk mendapatkan kebahagiaan, tetapi yang dicari adalah semakin yang terjangkau, liburan," terangnya.

Baca Juga: 12 Ucapan Imlek untuk Rekan Kantor, Tak Perlu Pusing Lagi Tinggal Pilih

Rhenald mengungkap, fenomena itu kerap disebut dengan istilah 'Lipstick Effect' sebuah kondisi perubahan gaya konsumsi masyarakat dalam kondisi ekonomi tertentu.

Dalam kesempatan yang sama, Rhenald menerangkan istilah 'Lipstick Effect' pertama kali dicetuskan oleh Chairman Emeritus The Estee Lauder Companies Inc Leonard Lauder saat tragedi 9/11 di Amerika Serikat (AS).

Saat itu, daya beli masyarakat turun dan membuat mereka sulit mencari pekerjaan, namun Lauder melihat keanehan terhadap penjualan lipstik yang justru meningkat.

"Jadi, terjadilah efek yang disebut sebagai kemewahan yang terjangkau, dan lipstick adalah satu kemewahan yang harganya tidak terlalu mahal. Lalu juga skincare, itu terbukti banyak laku ketika terjadi COVID-19," terang Rhenald.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Hanggi

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X