Opini: In Memoriam, Salim Said dan Empat Generasi Film Indonesia

photo author
Hanggi, Senayan Post
- Minggu, 19 Mei 2024 | 15:40 WIB
Denny JA  (Ist.)
Denny JA (Ist.)

Ini generasi pedagang. Mereka melihat film sebagai barang dagangan saja, mulai dari film bisu sampai teknologi film bicara.

Baca Juga: Penasihat Keamanan AS Bakal ke Arab Saudi, Bicarakan Normalisasi dengan Israel

Lalu datang Usmar Ismail. Ia the game changer. Filmnya mulai dari Darah dan Doa, Lewat Jam Malam, dan Tiga Dara, mulai memasukkan gagasan ke dalam film.

Pentingnya sosok Usmar Ismail, terlihat dari respon pemerintah Indonesia. Hari pertama Usmar merekam film pertamanya dijadikan hari film nasional.

Usmar Ismail dilanjutkan Syuman Jaya hingga Teguh Karya. Film bermutu di Indonesia mulai bermunculan.

“Pada Generasi ketiga,” ujar Salim Said, “datang Garin Nugroho dan kawan- kawannya yang sekolah film, seperti di IKJ. Generasi ini memang lebih mengerti film secara akademis. Mereka juga punya kesadaran ikut aneka festival film internasional.

Baca Juga: Masuk YouTube Trending Music, Ini Lirik Lagu Accendio dari IVE

Mereka mulai membuat film bergaya seni. Tak semua film generasi ini diputar komersial di bioskop Indonesia.

Sebagian memang dibuat untuk ikut festival film international. Banyak juga yang mendapatkan dana internasional.

Ujar Salim Said, “Saya kira baru generasi keempat nanti, film Indonesia diperhitungkan dalam festival sekelas Oscar. Dugaan saya, itu 10-20 tahun mendatang. Saya tak akan mengalaminya.”

Cukup hangat percakapan kami. Saya juga menceritakan perkembangan artificial intelligence. Betapa sekarang, AI dapat digunakan untuk menyeleksi naskah film untuk tahu apakah ini film akan laku, dilihat dari topik, plot cerita, karakterisasi tokoh, dan dialognya.

Baca Juga: Israel Penjajah Evakuasi Tiga Jenazah Tawanan Hamas, Ini Kata Abu Ubaidah

Saya sempat cerita, beberapa puisi esai saya difilmkan oleh Hanung Bramantyo, untuk topik diskriminasi. Tapi ini film pendek durasi 40 menit saja. Ini bukan film bioskop.

Satu lagi puisi esai saya sedang difilmkan bekerja sama dengan PFN. Itu mengenai aksi kamisan para keluarga yang kehilangan anak dan orang tersayang, karena isu politik.

Tapi kisah politik puisi esai itu diganti. Bukan melawan pemerintah atau istana, tapi melawan perusahaan multi nasional. PFN mustahil membuat film yang protes pada pemerintah.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Hanggi

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X