Jawabannya, ini semua merupakan contoh hasil perjuangan Syaikh Burhanuddin Ulakan. Bahkan ada informasi yang menyebutkan bahwa murid-murid awal beliaulah yang mendorong lahirnya Sumpah Sati (Perjanjian) Bukit Marapalam, yaitu Limo Serangkai.
Salah paham bahwa Islam disebarkan oleh pedagang, cerita guru kami, Habib Ahmad Al Maqdi, adalah usaha orang-orang benci agama untuk menjauhkan umat dari ulama, dan agar awam melupakan jasa ulama. Dan hasilnya dapat dilihat sekarang, betapa banyak orang Minang yang tidak paham akar keislaman mereka dari mana. Benci surau dengan tasawuf dan thriqah-nya. Bahkan jangankan berziarah, mendoakan orang yang menyebarkan Islam di negerinya pun tidak mau!
Maka persona tidak tahu diuntung seperti ini, harus disuapkan data dan informasi agar tidak seperti kacang lupa kulitnya. Coba Anda bayangkan! Menyuruh keluarga yang sudah Islam untuk shalat saja susahnya luar biasa. Para ulama kita dulu, justru menyuruh yang tidak menyembah Allah SWT untuk menyembah Allah SWT, menyuruh yang tidak shalat untuk shalat, menyuruh orang yang tidak berkhitan untuk berkhitan, di tengah komunitas yang benar-benar minim informasi tentang Islam! Pekerjaan berat ini tidak mungkin dilakukan, kecuali oleh alim yang benar-benar alim, da'i yang benar-benar da'i. Lalu tiba-tiba kini jasa para ulama akan diabaikan begitu saja?
Memang tidak dinafikan, di sisi lain, sikap ghuluw dari sebagian pencinta Syaikh Burhanuddin tidak bisa dibenarkan. Namun hal ini jangan sampai menutupi hakikat bahwa jasa beliau dalam Islamisasi Minangkabau sungguh luar biasa. Maka saya tidak bosan untuk bersalawat dan salam kepada Nabi Muhammad SAW dan berharap agar kebaikan juga dilimpahkan untuk siapapun yang telah menyampaikan ajaran beliau kepada kita.
Semoga Allah selalu menuntun kita untuk jadi lebih baik..