khazanah

Dari Adopsi ke Inovasi: Al-Ījād dan Transformasi Peradaban Nahdlatul Ulama

Selasa, 25 Agustus 2026 | 12:53 WIB

Sejarah peradaban Islam pada masa Abbasiyah (abad ke-8 hingga ke-13 M) memberikan ilustrasi benderang mengenai fase transformasi dari al-akhdzu menuju al-ījād.

Pada fase awal, para sarjana di Baghdad memang melakukan al-akhdzu melalui institusi Bayt al-Hikmah—mengadopsi, menerjemahkan, dan mempelajari naskah-naskah filsafat Yunani, matematika India, dan astronomi Persia. Namun, peradaban Islam tidak berhenti sebagai penjaga perpustakaan tradisi antik. Lompatan peradaban terjadi ketika mereka melakukan transisi dramatis menuju al-ījād:

Al-Khwarizmi tidak sekadar mengadopsi sistem angka India; ia menciptakan cabang matematika baru bernama Aljabar (al-jabr), yang menjadi bahasa dasar bagi algoritma sains komputasi modern. Begitu juga Ibnu Sina (Avicenna) tidak sekadar membaca Galen atau Hippocrates; ia menyusun Al-Qānūn fī aṭ-Ṭibb, sebuah sintesis Kedokteran baru yang tersistematisasi dan menginterogasi cacat logika medis pendahulunya, hingga menjadi rujukan utama Eropa selama lebih dari lima abad.

Jika ilmuwan Muslim era keemasan hanya mengagungkan al-akhdzu, mereka hanya akan dikenang dalam sejarah sebagai translator (penerjemah). Mereka menjadi mercusuar dunia justru karena keberanian mereka melakukan sintesis kognitif dan memproduksi teori baru. Inilah tantangan riil NU hari ini: sejauh mana modal ribuan pesantren dan khazanah turāts telah ditransformasikan melalui etos al-ījād untuk menjawab problem kecerdasan buatan, perubahan iklim, atau krisis bioteknologi?

Nostalgia Pasif dan Mitos Generatif

Penghambat utama lahirnya etos al-ījād dalam tubuh NU adalah pembacaan regresif terhadap sejarah dan teks keagamaan. Salah satu artikulasi yang sering membelenggu kreativitas pemikiran adalah penafsiran deterministik atas hadis mengenai generasi terbaik (khairul qurūn):
“Sebaik-baik manusia adalah generasiku, kemudian generasi setelah mereka, kemudian generasi setelah mereka.” (HR. Bukhari & Muslim)

Teks ini sering kali dipahami secara pejoratif-linear: seolah-olah peradaban manusia pasca-generasi salafus ṣāliḥ secara mutlak dipastikan memburuk dalam segala aspek kehidupan. Doktrin degradasi sejarah yang dipahami secara keliru ini melahirkan nostalgia pasif. Akibatnya, tugas keilmuan generasi masa kini direduksi sekadar mengulang, menghafal, dan mengutip legitimasi masa lalu.

Sosiolog dan pemikir revolusioner Ali Shariati dalam Man and Islam mengingatkan bahaya sikap mental seperti ini. Shariati membedakan antara tradisionalisme pasif yang membelenggu manusia pada bentuk-bentuk masa lalu, dengan kesadaran sejarah yang menjadikan sejarah sebagai daya dorong untuk melakukan transgresi dan inovasi. Menurut Shariati, Islam tidak menghendaki manusia menjadi pemuja fosil sejarah, melainkan agen aktif (khaliq) yang terus-menerus merespons dinamika zamannya.

Generasi salaf yang agung justru memberi contoh terbaik tentang etos al-ījād. Imam Asy-Syafi'i tidak sekadar mengutip pandangan para gurunya di Madinah atau Kufah; ia menciptakan metodologi hukum baru melalui Ar-Risālah, yang melahirkan ilmu Usul Fiqh. Bahkan ketika berpindah ke Mesir, beliau merumuskan qaul jadīd (pendapat baru) untuk menggantikan qaul qadīm (pendapat lama) demi merespons epistemologi dan realitas sosiologis yang berbeda. Tradisi dalam NU, dengan demikian, tidak boleh diperlakukan sebagai museum yang steril, melainkan sebagai laboratorium yang dinamis.

Memurnikan Al-Ījād dari Patronase Politik

Keberanian untuk memproduksi sesuatu yang baru (al-ījād) membutuhkan pra-syarat mutlak: kedaulatan epistemik (epistemic autonomy). Tanpa otonomi berpikir dari intervensi kekuasaan ekstra-intelektual, sebuah komunitas akan kehilangan agensi untuk menentukan agenda peradabannya sendiri.

Al-Qur'an secara tajam menggambarkan risiko sosiologis hilangnya independensi ini dalam surah Saba' ayat 31–33, yang merekam konfrontasi antara al-mustad‘afîn(kelompok yang dilemahkan agensinya) dan al-mustakbirūn (hegemoni elit kekuasaan):

“Dan orang-orang yang dianggap lemah berkata kepada orang-orang yang menyombongkan diri: 'Kalau tidaklah karena kamu, tentulah kami menjadi orang-orang yang beriman.'”

Ayat ini memperingatkan betapa tragisnya suatu komunitas ketika daya kritisnya dilumpuhkan oleh kooptasi struktur kekuasaan. Inilah risiko terbesar NU jika arena Muktamar dan dinamika keilmuannya terus-menerus terdegradasi oleh pragmatisme politik, patronase kekuasaan jangka pendek, atau sekadar perburuan posisi teknokratis-birokratis. Ketika NU membiarkan dirinya direduksi sekadar sebagai instrumen mobilisasi elektoral, pada saat itulah NU kehilangan wibawa epistemik untuk menawarkan kritik peradaban.

Manifestasi Al-Ījād: Tiga Pilar Peradaban NU Abad Kedua

Halaman:

Tags

Terkini

Ditulis Bukan untuk Warga Syiah

Selasa, 4 Agustus 2026 | 18:48 WIB

Neo-Sundanisme: Proyek Peradaban Dedi Mulyadi

Selasa, 28 Juli 2026 | 19:50 WIB

KH. Imam Jazuli di Antara Kenyataan dan Kritikan

Jumat, 17 Juli 2026 | 18:28 WIB

Gara-Gara Huruf "P"

Jumat, 12 Juni 2026 | 08:15 WIB

Brutu

Senin, 8 Juni 2026 | 13:21 WIB

FA AINA TADZHABUN?

Rabu, 3 Juni 2026 | 07:58 WIB