khazanah

Iran: Rahbar Mojtaba dan Tauhid Liberasi Babak Baru

Jumat, 17 Juli 2026 | 19:08 WIB
Cendhy Vicky - Peneliti INDEPTH

            Dengan didapuknya Mojtaba sebagai Supreme Leader baru, Iran memiliki tantangan politik global yang baru. Dimana posisioning Iran dalam waktu kurang dari setahun, telah berubah signifikan. Dari sebuah kekuatan geografis yang partikular. Menjadi kekuataan baru dalam konteks global.

            Setelah dua imam besar memimpin, Iran masih dinilai sebagai kekuatan subordinat. Dimana perannya dalam konteks politik dan ekonomi masih dibayangi oleh dua negara besar. Rusia dan China. Ini tentu tak lepas dari ekonomi Iran yang puluhan tahun dihambat oleh embargo. Tetapi kini sejak wafatnya Ali Khamenei oleh serangan ilegal AS dan Israel, Iran mengambil peluang dan kesempatan besar dengan menutup Selat Hormuz untuk beberapa pekan, yang membuat harga komoditas energi melambung tinggi. Meski beberapa negara sababat diperbolehkan melewati selat tersebut. Tetapi untuk negara non sahabat dikenakan tarif yang sangat mahal. Yakni dua juta dollar.

            Keberanian Iran mengambil keputusan tersebut tentu tidak bisa dibayar dengan yang gugurnya sang imam dalam syahid. Tetapi ternyata keputusan buruk untuk menyerang Ali Khamenei, juga harus dibayar mahal pula oleh AS (Donald Trump) dan Israel. Harga minyak domestik yang melambung tinggi plus besarnya ongkos pemurnian dari minyak Venuzuela membuat AS harus melakukan negosiasi dengan Iran yang difasilitasi oleh Pakistan. Begitupun Israel, dimana banyak negara dunia yang mengecam genosida di Palestina. Ada peribahasa yang cocok untuk itu, “senjata makan tuan”.

            Faktor utama inilah yang membuat Iran dalam geopolitik dua Imam sebelumnya dan era Mojtaba berbeda. Memang kepemimpinan Mojtaba belum seumur jagung. Mungkin dapat dikatakan relatif masih transisi. Tetapi jelas tantangan kedepannya adalah dimana dunia telah mengakui Iran tumbuh menjadi raksasa baru yang menentang dan mendikte AS dan sekutu. Ini adalah babak baru dalam percaturan politik internasional Iran. Pewaris Persia itu kini, memiliki bidak-bidak yang lebih strategis. Energi, militer, pendidikan, dan kesehatan. Empat pilar. Satu komando.

            Tentu dengan semakin kuatnya Iran, ini menambah pula daya tawar koalisi besar Rusia dan China. Setali tiga uang, tiga negara itu akan saling mengisi pos-pos yang kurang untuk makin meningkatkan pengaruh. Terutama ke negara Asia, Afrika, dan (beberapa) Amerika Latin. Memang negosiasi dengan AS masih terbilang alot per detik ini. Tetapi yang penting untuk disimak adalah negosiasi itu adalah titik krusial yang membuat politik, militer dan ekonomi Iran menjadi semakin kuat. Kita tinggal menunggu poin-poin spesifik apa yang menjadi kejutan dari kesepakatan dua negara itu.

Perlahan tapi pasti, penulis memprediksi Iran kedepannya akan memegang peran kunci dalam menjadi jembatan bagi beberapa poros. Poros Eropa-Rusia, Eropa-Perancis, Asia-China, dan ke AS-sekutu. Itulah yang membuat Iran tidak lagi menjadi catatan kaki dari geopolitik global. Ini membuktikan, sekali lagi, bahwa Iran kembali menancapkan panji kebanggsaan, bahwa mereka adalah bangsa yang besar. Dan memiliki pengaruh kuat untuk dunia sejak lampau. Setalah negara-negara Islam, kini dunia menanti Iran menjadi referensi utama bagi kiblat relasi agama dan politik yang menjadi nilai adiluhung. Teologi pembebasan dan Revolusi 1979 berhasil menumbangkan Reza Pahlevi. Tauhid liberasi dan revolusi moral yang diserukan Iran bersiap memenangkan kebangkitan era baru.

 

 

Halaman:

Tags

Terkini

KH. Imam Jazuli di Antara Kenyataan dan Kritikan

Jumat, 17 Juli 2026 | 18:28 WIB

Gara-Gara Huruf "P"

Jumat, 12 Juni 2026 | 08:15 WIB

Brutu

Senin, 8 Juni 2026 | 13:21 WIB

FA AINA TADZHABUN?

Rabu, 3 Juni 2026 | 07:58 WIB

Niat Puasa Arafah, Latin dan Artinya

Senin, 25 Mei 2026 | 21:10 WIB

Gema Lonceng Vatikan: Ditubir Perang Dunia

Jumat, 24 April 2026 | 17:19 WIB