Meski begitu, saya melihat Kiyai Imjaz juga bagus dalam membangun komunikasi dengan partai-partai lain. Kiyai Imjaz menundang KH. Zuhairi Misrawi, pengurus Partai PDIP dan Dubes Tunisia untuk mengisi ceramah di pesantrennya Bina Insan Muliya Cirebon. Dan partai-partai yang lain.
3. Bukan Organisatoris Karbitan
Poin ini yang agak keras, dalam tulisan itu menuduh kalau Kiyai Imjaz adalah organisatiros karbitan. Setahu saya, semua organisasi kemahasiswaan di Mesir pernah beliau pemimpin. Bahkan di NU aktif semenjak KMNU Mesir, dan di PBNU sebagai wakil ketua pimpinan RMI-PBNU (Rabithah Ma’ahid Islamiyah Nahdlatul Ulama). Penulis yang sangat produktif sejak mahasiswa hingga kini. Produktifitasnya dalam menulis hampir tidak bisa ditandingi oleh siapapun.
Jika Kiyai Imjaz pengalam organisasinya karbitan, niscaya tidak akan mungkin bisa membangun dan mengembangkan Pondok Pesantren Bima yang saat ini pembangunannya terus ekspansi, sampai Bima 4, dan santrinya ribuan.
Berpakaian kaos oblong dan sarung atlas adalah laku lampah tirakat beliau; ke negara mana pun, menghadapi siapa pun termasuk pejabat negara setingkat menteri dan siapapun memang begitu, kecuali acara formal atau mengisi minta sambutan pake kemeja putih saja. Meski beliau banyak sedekah sarung BHS, tetapi Kiyai Imjaz tetap istiqamah pake sarung Atlas, bukan BHS.