Boy Mareta
Magister Ilmu Kesejahteraan Sosial, Universitas Indonesia
Hari Raya Iduladha selalu menghadirkan wajah Indonesia yang berbeda. Jalanan kota dipenuhi hewan kurban, masjid-masjid sibuk dengan panitia, dan masyarakat berbondong-bondong menunaikan ibadah terbaiknya. Kurban bukan hanya ritual tahunan, tetapi juga denyut kepedulian sosial yang hidup di tengah masyarakat muslim Indonesia.
Di negeri dengan populasi muslim terbesar di dunia ini, potensi kurban sesungguhnya sangat besar. Berbagai lembaga riset dan filantropi memperkirakan potensi ekonomi kurban nasional terus bertumbuh setiap tahun. Lembaga riset IDEAS Indonesia memperkirakan potensi ekonomi kurban nasional berada pada kisaran lebih dari Rp30 triliun per tahun. Sementara BAZNAS RI menyebutkan bahwa potensi kurban nasional pada tahun lalu mencapai sekitar Rp34,85 triliun.
Angka tersebut menunjukkan bahwa kurban bukan hanya ibadah spiritual, tetapi juga kekuatan sosial ekonomi umat yang sangat besar. Ribuan ton daging didistribusikan hanya dalam beberapa hari. Jutaan masyarakat merasakan manfaatnya. Namun di balik besarnya potensi itu, ada pertanyaan penting yang perlu terus direnungkan: apakah distribusi daging kurban sudah benar-benar menjangkau mereka yang paling membutuhkan?
Realitas di lapangan menunjukkan bahwa distribusi kurban masih banyak menumpuk di wilayah perkotaan. Di sejumlah kota besar, satu keluarga bahkan dapat menerima beberapa kantong daging dalam sehari. Sebagian tersimpan penuh di lemari pendingin, sebagian lagi bahkan berisiko tidak termanfaatkan secara optimal.
Baca Juga: Inspirasi Ucapan Selamat Idul Adha, Cocok untuk Share di Grup WA sampai Status Sosmed
Namun di sisi lain, ada wilayah-wilayah pelosok yang justru sangat jarang menikmati daging sepanjang tahun. Kawasan pegunungan, daerah pesisir terpencil, wilayah 3T (tertinggal, terdepan, dan terluar), hingga daerah rawan kekeringan pangan masih menjadi titik-titik minim distribusi kurban. Di sebagian tempat, Iduladha menjadi satu dari sedikit momen masyarakat dapat menikmati daging bersama keluarga.
Paradoks ini terasa begitu nyata. Di kota-kota besar, daging kurban kadang berlebih hingga tersimpan berhari-hari di lemari pendingin. Namun di sebagian pelosok negeri, daging masih menjadi kemewahan yang jarang hadir di meja makan masyarakat.
Ketimpangan ini bukan sekadar soal logistik, tetapi juga soal arah kesadaran.
Kurban sejatinya bukan hanya tentang menyembelih hewan, melainkan menyembelih ego dan rasa nyaman diri sendiri. Ada dimensi pengorbanan yang jauh lebih dalam daripada sekadar prosesi seremonial. Ketika Nabi Ibrahim AS diperintahkan berkurban, yang diuji bukan kemampuan memiliki, melainkan keikhlasan melepaskan.
Baca Juga: Daftar Doa yang Dianjurkan saat Hari Arafah, Jangan sampai Terlewat!
Maka dalam konteks hari ini, kurban tidak berhenti pada “apa yang diberikan”, tetapi juga “kepada siapa ia sampai”.